Perkongsian ilmu dan informasi yang berkaitan dengan Islam dan akhir zaman berdasarkan akidah ahlus sunnah wal jamaah.

Articles by "Hadis"
40 Hadis Akhir Zaman Abdul Rahman Chao Abu Bakar As-Siddiq r.a Ahmad Deedat Akhbar Akhir Zaman Akidah Ahli As-Sunnah Wal-Jamaah Mengikut Manhaj Salaf As-Soleh Akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah Al Malhamah Al Kubra Al-Faedah Al-Farabi Al-Khazini Al-Qassam Al-Quran Alam Barzakh Alkitab Amalan Terbalik Apa Itu Iman Arnold Fandor Asmaa’ullaahul Husnaa Audio Babi Bacaan Al-Quran bangsa Rum Biarawati Bible Bid'ah Bidadari Bolasepak Bujang Cara Hidup Islam Carissa D. Lamkahouan Chika Nakamura Dajjal Laknatullah Dakwah Dakwah Maya Dalil-Dalil Tentang Tauhid Damaskus Dato Syeikh Muhammad Fuad Al Maliki Daulah Islam Doa Download Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan Dukun Dunia Islam Dunia Oh Dunia Eric Gabriel Mason Facebook Note Fakta Ilmiah False Flag Fathul Bari Featured Felix Y. Siauw Felixia Yeap Filem 2012 Freemason Global Warming Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid Hablum Minallah Hadis Hadis Akhir Zaman Hadis Qudsi Hafiz Hajar Aswad Haji Haram Hidayah Hijab Hudud Hukum & Fatwa Ibn Qayyim Ibn Tufail Ibnu Hajar Al-Asqalani Ibu Bapa Illuminati Imam Al-Bukhari Imam Al-Ghazali Imam Bukhari Imam Habib Abdullah Haddad Imam Mahdi Imam Muslim Imam Nawawi Iman Bertambah Dan Berkurang Infaq Injil IS ISIS Islam Islam di Malaysia Islam Itu Indah Isra' Mikraj Istilah Dalam Islam Jabhatul Islamiyyah JAKIM Jana Petersen Jihad Jimak Jom Hafal Jurusalem Kaabah Kafir Kebenaran Islam Kebesaran Allah Keindahan Islam Kesempurnaan Iman Adalah Kesempurnaan Agama Keutamaan Kasih Sayang Khilafah Kiamat Kisah & Teladan Kisah Cinta Kisah Mualaf Kisah Para Nabi Kisah Para Sahabat Kiswah Kitab Allah Kitab Hadis Kitab Jual Beli Kitab Pemerintahan Korea Kristian Kuasa Allah Kubur Lelaki Live HD Loo Jo Yee Luqman Al-Hakim Madinah Maksud Ilah Dalam Al-Quran Mantan Pendeta Masjid Jamek Umawi Masjid Sana'a Masjidil Aqsa Mazdakisme Mekah Mentalqin Maut (Orang Nazak) Meteor MLM Motivasi Movie Muhammad Nashiruddin Al-Albani Mujahid Mujahidin Mukasyafatul Qulub Mukjizat Mukmin Sejati Munakahat Musa Caplan Muslimah Nabi Isa AS Nabi Muhammad SAW Nabi Saleh AS Nasihat Natasha Farani Neraka Niqab Nuzul al-Quran Onani Panduan Panduan Mengenal Kalimah Tauhid Panji Hitam Paulus Pemerintah Pemimpin Pendakwah Sabah Pendidikan Pengetahuan Penghinaan Kepada Islam Penyembuhan Islam Perancangan Jahat Yahudi Perang Armageddon Peribadi Rasulullah SAW Perkahwinan Perniagaan Pondok Sungai Durian Pope Projek Menghafal 10 Ayat Awal Surah Al-Kahfi Puasa Pulau Pinang Purdah Ramadhan Rasulullah SAW Renungan Riba Rukun Iman Rukun Islam Ruqyah Saddam Hussein Sahabat Nabi Sahabat Yamima Saham Akhirat Sahih Sahih Bukhari Sakit Perut Salaf Salaf As-Soleh Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW Sejarah Imam Sejarah Islam Selawat Selebriti Semasa Serban Sheikh Imran Hosein Soal Jawab Agama Solat Suami Suara Mualaf Subahanallah Sufi Sultan Perak Sungai Furat Sunnah Rasulullah Surah Al-Khafi Surah Palsu Surat Al-Kahf Suriah Syaitan Syam Syarah Hadis Syarat Kedua: YAKIN Syarat Keempat: IKHLAS Syarat Keenam: BERSERAH Syarat Kelima: MENERIMA Syarat Ketiga: PERCAYA Syarat Ketujuh: CINTA Syarat Pertama: ILMU Syarat-Syarat Kalimah Laa Ilaaha Illallah Syiah Syria Tahlil dan Doa Selamat Tanya Jawab Tarawih Taubat Tauhid Tazkirah Teknologi Tentera Amerika Terjemahan Hadits Shahih Muslim Terrorist The Cave Tilawah Al-Quran Tokek Tokoh Islam Tuan Guru Haji Musa Tujuan Para Nabi Dan Para Rasul Diutus Tutorial Ulama Umum Unta Update Terkini Gaza Ustaz Abdul Basit Abdul Rahman Ustaz Abdul Halim Abas Ustaz Azhar Idrus Valentine’s Day Video Wahabi Wali Allah Wanita Waraqah bintu Naufal Windows 8 Yahudi Yakjuj dan Makjuj Yesus Zikir Zulkifli M Ali

Dipetik dari Kitab Jual Beli dalam Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani

Hadits ke-20
Menurut riwayat Abu Dawud: Barangsiapa melakukan dua jual-beli dalam satu transaksi, maka baginya harga yang murah atau ia termasuk riba'.

Hadits ke-50
Jabir Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda: "Mereka itu sama." Riwayat Muslim. 

Hadits ke-52
Dari Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Riba itu mempunyai 73 pintu, yang paling ringan ialah seperti seorang laki-laki menikahi ibunya dan riba yang paling berat ialah merusak kehormatan seorang muslim." Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan ringkas dan Hakim dengan lengkap, dan menurutnya hadits itu shahih. 

Hadits ke-55
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "(Diperbolehkan menjual) emas dengan emas yang sama timbangannya dan sama sebanding, dan perak dengan perak yang sama timbangannya dan sama sebanding. Barangsiapa menambah atau meminta tambahan maka itu riba." Riwayat Muslim. 

Hadits ke-62
Dari Abu Umamah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa memberi syafa'at (menjadi perantara untuk suatu kebaikan) kepada saudaranya, lalu ia diberi hadiah dan diterimanya, maka ia telah mendatangi sebuah pintu besar dari pintu-pintu riba." Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dan dalam sanadnya ada pembicaraan.


Bismillah. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.

Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa orang seputar derajat hadits huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan yang bertepatan dengan hari Jumat.

Maka kami katakan, bahwa para ulama hadits terdahulu maupun yang hidup di zaman sekarang telah menerangkan dengan jelas dan gamblang bahwa hadits-hadits yang berbicara tentang masalah tersebut tidak ada satu pun yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, baik ditinjau dari segi sanad hadits maupun realita yang ada. 

Bahkan semuanya adalah hadits-hadits munkar dan palsu yang didustakan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Berikut ini akan saya sebutkan teks (lafazh) hadits tersebut dengan sanadnya, serta studi kritis para ulama terhadapnya.

Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, pent) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.

(Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab Al-Fitan I/228, No.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, No.39627).

Derajat Hadits

Hadits ini derajatnya palsu (maudhu’), karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang pendusta dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits. Para perawi tersebut ialah sebagaimana berikut ini

1. Nu’aim bin Hammad

Dia seorang perawi yang dha’if (lemah),

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)” (Lihat Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin, karya An-Nasa’i I/101 no.589)

Abu Daud berkata: “Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tidak mempunyai dasar sanad (sumber asli, pent).”

Imam Al-Azdi mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As-Sunnah, dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu Hanifah, pent), yang semuanya itu adalah kedustaan”  (Lihat Mizan Al-I’tidal karya imam Adz-Dzahabi IV/267).

Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah dengannya, dan ia telah menyusun kitab Al-Fitan, dan menyebutkan di dalamnya keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran” (Lihat As-Siyar A’lam An-Nubala X/609).

2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah)

Dia seorang perawi yang dha’if (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar.

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)” (Lihat Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin, karya An-Nasa’i I/64 no.346)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Dia mengalami kekacauan di dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar” (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/319 no.3563).

3. Abdul Wahhab bin Husain

Dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal).

Al-Hakim berkata tentangnya: “Dia seorang perawi yang majhul (tidak jelas jati dirinya dan kredibilitasnya)” (Lihat Al-Mustadrak No. 8590)

Imam Adz-Dzahabi berkata di dalam At-Talkhish: “Dia mempunyai riwayat hadits palsu.” (Lihat Lisan Al-Mizan, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani II/139).

4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani

Dia seorang perawi yang dha’if (lemah dalam periwayatan hadits) sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh 
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hibban dan An-Nasa’i.

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)”

Yahya bin Ma’in berkata: “Dia seorang perawi yang tidak ada apa-apanya”(Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal, karya Ibnu ‘Adi VI/136 no.1638).

Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengannya, dan tidak boleh pula meriwayatkan darinya” (Lihat Al-Majruhin, karya Ibnu Hibban II/252 no.928).

Imam Al-Azdi berkata: “Dia seorang yang gugur riwayatnya” (Lihat Tahdzib At-Tahdzib, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani IX/72 no.104)

5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani.

Dia seorang perawi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim dan Ibnu Al-Madini.

An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia bukan seorang perawi yang kuat (hafalannya, pent)” (Lihat Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal, karya Ibnu ‘Adi II/186 no.370).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tentangnya: “Imam Asy-Sya’bi telah mendustakan pendapat akalnya, dan dia juga dituduh menganut paham/madzhab Rafidhah (syi’ah), dan di dalam haditsnya terdapat suatu kelemahan” (Lihat Taqrib At-Tahdzib I/146 no.1029).

Ali bin Al-Madini berkata: “Dia seorang pendusta”

Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.” (Siyar A’lam An-Nubala’, karya imam Adz-Dzahabi IV/152 no.54)

Perkataan Para Ulama Tentang Hadits Ini

Al-Uqaily rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya), atau dari jalan yang tsabit (kuat dan benar adanya).” (Lihat Adh-Dhu’afa Al-Kabir III/52).

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” (Lihat Al-Maudhu’aat III/191).

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini palsu (maudhu’). Dikeluarkan oleh Nu’aim bin Hammad dalam kitab Al-Fitan.” Dan beliau menyebutkan beberapa riwayat dalam masalah ini dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhuma. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah no.6178, 6179).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak mempunyai dasar yang benar, bahkan ini adalah hadits yang batil dan dusta” (Lihat Majmu’ Fatawa Bin Baz XXVI/339-341).

Kesimpulan

Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu). Tidak boleh diyakini sebagai kebenaran, dan tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. 

Karena disamping sanad hadits ini tidak ada yg dapat diterima sebagai hujjah, juga realita telah mendustakannya. Sebab telah berlalu tahun-tahun yang banyak dan telah terjadi berulang kali hari Jum’at yang bertepatan dengan tanggal lima belas (pertengahan) bulan Ramadhan, namun kenyataannya tidak pernah terjadi sebagaimana berita yang terkandung di dalam hadits ini, Alhamdulillah.

Oleh karena itu, kita dilarang keras menyebarluaskannya kepada orang lain baik melalui media cetak, maupun elektronik, atau dalam obrolan dan khutbah kecuali dalam rangka menjelaskan sisi kelemahan, kepalsuan, dan kebatilannya, serta bertujuan untuk memperingatkan umat darinya.

Jika kita telah melakukan ini, berarti kita telah bebas dan selamat dari ancaman keras Nabi shallallahu alaihi wasallam, yaitu berupa masuk neraka bagi siapa saja yang sengaja berdusta atas nama beliau, baik dengan tujuan menjelekkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan ajarannya, atau dalam rangka membela Nabi dan memotivasi kaum muslimin untuk bersemangat dalam beribadah kepada Allah.

Demikian jawaban atas pertanyaan dalam masalah ini yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Telah selesai ditulis pada hari Rabu, 04 Januari 2012 di kediamannya, Klaten – Jawa Tengah.
—
Penulis: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawwaz, Lc.
Artikel http://abufawaz.wordpress.com dengan pengeditan seperlunya oleh redaksi muslim.or.id

Sumber

Pengertian As-Sunnah

Yang dimaksud As-Sunnah di sini adalah Sunnah Nabi, yaitu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya (terhadap perkataan atau perbuatan para sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari’at bagi umat ini. Termasuk didalamnya apa saja yang hukumnya wajib dan sunnah sebagaimana yang menjadi pengertian umum menurut ahli hadits. Juga ‘segala apa yang dianjurkan yang tidak sampai pada derajat wajib’ yang menjadi istilah ahli fikih (Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaid wa al Ahkam karya As-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal. 11).

As-Sunnah atau Al-Hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah : “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan (sesuatu) yang serupa dengannya.” -yakni As-Sunnah-, (H.R. Abu Dawud no.4604 dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad IV/130)

Para ulama juga menafsirkan firman Allah : “…dan supaya mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah” (Al BAqarah ayat 129) 

Al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah As-Sunnah seperti diterangkan oleh Imam As-Syafi`i, “Setiap kata al-hikmah dalam Al-Qur`an yang dimaksud adalah As-Sunnah.” Demikian pula yang ditafsirkan oleh para ulama yang lain. ( Al-Madkhal Li Dirasah Al Aqidah Al-Islamiyah hal. 24)

As-Sunnah Terjaga Sampai Hari Kiamat

Diantara pengetahuan yang sangat penting, namun banyak orang melalaikannya, yaitu bahwa As-Sunnah termasuk dalam kata ‘Adz-Dzikr’ yang termaktub dalam firman Allah Al-Qur`an surat al-Hijr ayat 9, yang terjaga dari kepunahan dan ketercampuran dengan selainnya, sehingga dapat dibedakan mana yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Tidak seperti yang di sangka oleh sebagian kelompok sesat, seperti Qadianiyah (Kelompok pengikut Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiani yang mengaku sebagai nabi, yang muncul di negeri India pada masa penjajahan Inggris) dan Qur`aniyun (Kelompok yang mengingkari As-Sunnah, dan hanya berpegang pada Al-Qur’an), yang hanya mengimani (meyakini) Al-Qur`an namun menolak As-Sunnah. Mereka beranggapan salah (dari sini nampak sekali kebodohan mereka akan Al Qur’an, seandainya mereka benar-benar mengimani Al Qur’an sudah pasti mereka akan mengimani As-Sunnah, karena betapa banyak ayat Al Qur’an yang memerintahkan untuk mentaati Rasulullah yang sudah barang tentu menunjukkan perintah untuk mengikuti As-Sunnah) tatkala mengatakan bahwa As-Sunnah telah tercampur dengan kedustaan manusia; tidak lagi bisa dibedakan mana yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Sehingga, mereka menyangka, setelah wafatnya Rasulullah , kaum muslimin tidak mungkin lagi mengambil faedah dan merujuk kepada as-Sunnah.( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi Al Aqaid wal Ahkam hal. 16) 

Dalil-dalil yang Menunjukkan Terpeliharanya As-Sunnah:

Pertama: 

Firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr:9)

Adz-Dzikr dalam ayat ini mencakup Al-Qur’an dan –bila diteliti dengan cermat- mencakup pula As-Sunnah.

Sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa seluruh sabda Rasulullah yang berkaitan dengan agama adalah wahyu dari Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Q.S. An-Najm:3)

Tidak ada perselisihan sedikit pun di kalangan para ahli bahasa atau ahli syariat bahwa setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah merupakan Adz-Dzikr. Dengan demikian, sudah pasti bahwa yang namanya wahyu seluruhnya berada dalam penjagaan Allah; dan termasuk di dalamnya As-Sunnah. 

Segala apa yang telah dijamin oleh Allah untuk dijaga, tidak akan punah dan tidak akan terjadi penyelewengan sedikitpun. Bila ada sedikit saja penyelewengan, niscaya akan dijelaskan kebatilan penyelewengan tersebut sebagai konsekuensi dari penjagaan Allah. Karena seandainya penyelewengan itu terjadi sementara tidak ada penjelasan akan kebatilannya, hal itu menunjukkan ketidak akuratan firman Allah yang telah menyebutkan jaminan penjagaan. Tentu saja yang seperti ini tidak akan terbetik sedikitpun pada benak seorang muslim yang berakal sehat.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa agama yang dibawa oleh Muhammad ini pasti terjaga. Allah sendirilah yang bertanggung jawab menjaganya; dan itu akan terus berlangsung hingga akhir kehidupan dunia ini ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 16-17) 

Kedua:

Allah menjadikan Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, serta menjadikan syari’at yang dibawanya sebagai syari’at penutup. Allah memerintahkan kepada seluruh manusia untuk beriman dan mengikuti syari’at yang dibawa oleh Muhammad sampai Hari Kiamat, yang hal ini secara otomatis menghapus seluruh syari’at selainnya. Dan adanya perintah Allah untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia, menjadikan syariat agama Muhammad tetap abadi dan terjaga. Adalah suatu kemustahilan, Allah membebani hamba-hamba-Nya untuk mengikuti sebuah syari’at yang bisa punah. Sudah kita maklumi bahwa dua sumber utama syari’at Islam adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Maka bila Al-Qur’an telah dijamin keabadiannya, tentu As-Sunnah pun demikian ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 19-20)

Ketiga:

Seorang yang memperhatikan perjalanan umat Islam, niscaya ia akan menemukan bukti adanya penjagaan As-Sunnah. Diantaranya sebagai berikut (Al Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah, hal. 25): 

(a) Perintah Nabi kepada para sahabatnya agar menjalankan As-Sunnah.

(b) Semangat para sahabat dalam menyampaikan As-Sunnah.

(c) Semangat para ulama di setiap zaman dalam mengumpulkan As-Sunnah dan menelitinya sebelum mereka menerimanya.

(d) Penelitian para ulama terhadap para periwayat As-Sunnah.

(e) Dibukukannya Ilmu Al Jarh wa At Ta’dil.( Ilmu yang membahas penilaian para ahli hadits terhadap para periwayat hadits, baik berkaitan dengan pujian maupun celaan, Pen.) 

(f) Dikumpulkannya hadits–hadits yang cacat, lalu dibahas sebab-sebab cacatnya.

(g) Pembukuan hadits-hadits dan pemisahan antara yang diterima dan yang ditolak.

(h) Pembukuan biografi para periwayat hadits secara lengkap.

Wajib merujuk kepada As-Sunnah dan haram menyelisihinya

Pembaca yang budiman, sudah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin pada generasi awal, bahwa As-Sunnah merupakan sumber kedua dalam syari’at Islam di semua sisi kehidupan manusia, baik dalam perkara ghaib yang berupa aqidah dan keyakinan, maupun dalam urusan hukum, politik, pendidikan dan lainnya. Tidak boleh seorang pun melawan As-Sunnah dengan pendapat, ijtihad maupun qiyas. Imam Syafi’i rahimahullah di akhir kitabnya, Ar-Risalah berkata, “Tidak halal menggunakan qiyas tatkala ada hadits (shahih).” Kaidah Ushul menyatakan, “Apabila ada hadits (shahih) maka gugurlah pendapat”, dan juga kaidah “Tidak ada ijtihad apabila ada nash yang (shahih)”. Dan perkataan-perkataan di atas jelas bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Perintah Al-Qur`an agar berhukum dengan As-Sunnah

Di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berhukum dengan As-Sunnah, diantaranya:

1. Firman Allah :

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat.” (Q.S. Al Ahzab: 36)

2. Firman Allah :

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 49:1)

3. Firman Allah :

“Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S. Ali Imran: 32)

4. Firman Allah :
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; janganlah kamu berbantah-bantahan, karena akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Anfal: 46)

5. Firman Allah :

“Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan.” (Q.S. An Nisa’: 13-14)

Hadits-hadits yang memerintahkan agar mengikuti Nabi dalam segala hal diantaranya:

1. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang engan,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari dalam kitab al-I’tisham) (Hadits no. 6851).

2. Abu Rafi’ mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “Sungguh, akan aku dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas sofanya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti”, (HR Imam Ahmad VI/8 , Abu Dawud (no. 4605), Tirmidzi (no. 2663), Ibnu Majah (no. 12), At-Thahawi IV/209).

3. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.).” (HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).

Kesimpulan :

1. Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, sehingga tidak diperbolehkan kaum muslimin menyelisihi salah satu dari keduanya. Durhaka kepada Rasulullah berarti durhaka pula kepada Allah, dan hal itu merupakan kesesatan yang nyata.

2. Larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Rasulullah sebagaimana kerasnya larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Allah.

3. Sikap berpaling dari mentaati Rasulullah merupakan kebiasaan orang-orang kafir.

4. Sikap rela/ridha terhadap perselisihan, -dengan tidak mau mengembalikan penyelesaiannya kepada As-Sunnah- merupakan salah satu sebab utama yang meruntuhkan semangat juang kaum muslimin, dan memusnahkan daya kekuatan mereka.

5. Taat kepada Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang ke dalam Surga; sedangkan durhaka dan melanggar batasan-batasan (hukum) yang ditetapkan oleh Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang kedalam Neraka dan memperoleh adzab yang menghinakan.

6. Sesungguhnya Al-Qur`an membutuhkan As-Sunnah (karena ia sebagai penjelas Al-Qur’an); bahkan As-Sunnah itu sama seperti Al-Qur`an dari sisi wajib ditaati dan diikuti. Barangsiapa tidak menjadikannya sebagai sumber hukum berarti telah menyimpang dari tuntunan Rasulullah

7. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menjaga kita dari penyelewengan dan kesesatan. Karena, hukum-hukum yang ada di dalamnya berlaku sampai hari kiamat. Maka tidak boleh membedakan keduanya. 

Referensi:

1. Al-Hadits Hujjatun bi nafsihi fil Aqaid wa Al Ahkam, karya as-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. III/1400 H, Ad-Dar As-Salafiyah, Kuwait.

2. Al-Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhab Ahli As Sunnah, karya Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan, penerbit Dar As-Sunnah, cet. III.

Wallahu A’lam .

Diambil dari Majalah Fatawa

Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya."Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata," Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap." (Arti dari Hadts No 79 - Kitab Fathu Bari)

Kandungan Hadits

Tentang hadits diatas, setelah memaparkan keterangan yang menjelaskan hadits diatas dari segi bahasa (arab), Ibnu Hajar Al-Asqalani -penulis kitab fikih (klasik) Bulughul Maram- dalam kitabnya Fathul Bari, menjelaskan :

Al Qurtubi dan yang lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang diperlukan ketika mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati, demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yang mati.

Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu agama dengan berbagai macam tanah yang terkena air hujan, diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajar. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.

Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan, akan tetapi dia mengejarkannya untuk orang lain, maka bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau, "Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar." Diantara mereka juga ada yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain, maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilignya.

Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua, adalah karena keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga, karena tercela dan tidak bermanfaat.

Kemudian dalam setiap perumpamaan terdiri dari dua kelompok. Perumpamaan pertama telah kita jelaskan tadi, sedang perumpamaan kedua, bagian pertamanya adalah orang yang masuk agama (Islam) namun tidak mendengarkan ilmu atau mendengarkan tapi tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan Nabi Shallallahu Alaihi was Sallam dalam sabdanya, "Orang yang tidak mau memikirkan" atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.

Adapun bagian kedua adalah orang yang sama sekali tidak memeluk agama, bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam, tapi dia mengingkari dan kufur kepadanya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah datar yang keras, dimana air mengalir diatasnya tapi tidak dapat memanfaatkannya. Hal ini diisyaratkan dengan perkataan beliau, "Dan tidak perduli dengan petunjuk Allah".

Ath-Thibi mengatakan, "Manusia terbagi menjadi dua. Pertama, manusia yang memanfaatkan ilmu untuk dirinya namun tidak mengajarkan kepada orang lain. Kedua, manusia yang tidak memanfaatkan untuk dirinya, tapi dia mengajarkan kepada orang lain. Menurut saya kategori pertama masuk dalam kelompok pertama, karena secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatnya berbeda. Begitu pula dengan tanaman yang tumbuh, diantaranya ada yang subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yang kering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang sunnah, sebenarnya dia termasuk dalam kelompok kedua seperti yang telah kita jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal wajib maka dia adalah orang fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya. Orang semacam ini termasuk dalam, man lam yar fa' bi dzalika ro san. Wallahu a'lam"

Penutup

Dari uraian diatas, mari kita berkaca pada pribadi masing-masing. Termasuk dalam kelompok manakah kita ; kelompok tanah yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain, ataukah kelompok tanah yang yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilingnya? Semoga Allah memudahkan jalan kebaikan dan (kemudian) menempuhnya untuk yang telah menulis dan membaca tulisan ini, Amin.

(Dikutip dari kitab Fathul Bari (penjelasan kitab Shahih Al Bukhari) karya Ibnu Hajar Al Asqalani [terjemahan])


ANALISIS HADITH AL-MAHDI
bicaramuslim.com

A. HADITH-HADITH TENTANG AL MAHDI 

Terdapat sangat banyak hadith yang menyebut tentang Imam Mahdi sehingga para ulamak menganggapnya sebagai salah satu daripada hadith yang sampai ke peringkat “tawatur ma’nawi”. Ada diantara tokoh hadith menyebutkan bahawa bilangan hadith yang menyebutkan tentang Mahdi itu melebihi lima puluh hadith, sementara yang lain pula ada mengatakan melebihi sembilan puluh hadith selain daripada atsar para sahabat. 

Di antara sahabat dan tabi’in yang dipastikan telah meriwayatkan hadith tentang Mahdi ini ialah: 

(1) Sayyidina Uthman bin Affan r.a. 
(2) Sayyidina Ali r.a. 
(3) Abdullah bin Abbas r.a. 
(4) Abdullah bin Umar r.a. 
(5) Talhah bin Ubaidillah r.a. 
(6) Abdullah bin Mas’ud r.a. 
(7) Abu Hurairah r.a. 
(8) Abu Sa’id Al Khudri r.a. 
(9) Anas bin Malik r.a. 
(10) Ummu Habibah r.a. 
(11) Ummu Salamah r.a. 
(12) Tsauban r.a. 
(13) Abdullah bin Al Harits bin Jaz’in r.a. 
(14) Jabir bin Abdullah r.a. 
(15) Abdur Rahman bin ‘Auf r.a. 
(16) Huzaifah bin Al Yaman r.a. 
(17) Abu Umamah r.a. 
(18) ‘Auf bin Malik r.a. 
(19) Qurrah Al Muzany r.a. 
(20) Ammar bin Syu’aib r.a. dari ayahnya daripada datuknya. 
(21) Ali Al Hilaly r.a. 
(22) Sa’id bin Musayyab r.a. 
(23) Qatadah r.a. 
(24) Syahr bin Hausyab r.a. dan lain-lain lagi. 

Hadith-hadith yang diriwayatkan ada yang bertaraf sahih, ada hasan dan ada yang dha’if ; (lihat At Ta’liqu As Shahih ‘Ala Misykat Al Mashaabih – j.6 ms. 197 – karangan Maulana Muhammad Idris Khandahlawi). 

Sementara tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadith-hadith tentang Al Mahdi secara terang dan jelas dengan menyebutkan nama atau gelaran “Al Mahdi” di dalam kitab mereka pula ialah seperti berikut: 
(1) Imam Abu Daud w. 275h 
(2) Imam Tirmizi w. 279h 
(3) Ibnu Majah w. 273h 
(4) Abdur Razzak bin Hammam bin Nafi’ w. 211h 
(5) Haakim w. 405h 
(6) Imam Ahmad w. 241h 
(7) Imam Abu Bakr Al Bazzar w. 292h 
(8) Imam Abu Bakr bin Abi Syaibah w. 235h 
(9) Abul Qassim At Tabaraani w. 360h 
(10) Abu Ya’la Al Maushili w. 307h dan lain-lain. 
(Maulana Muhammad Badri Alam Mirthi – Tarjuman As Sunnah j.4 ms. 337) 

Di bawah akan diperturunkan beberapa hadith yang diriwayatkan oleh mereka yang tersebut itu: 

1. Diriwayat daripada Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bagaimana agaknya kamu bila Isa Ibnu Maryam turun di antaramu dan pada ketika itu imam kamu adalah salah seorang daripada kamu”. (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim) 

2. Daripada Jaabir katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan ada di akhir ummatKu seorang khalifah yang mengaut harta dengan banyak (untuk diberikan kepada orang ramai) dan tidak membilangnya sama sekali”. (Hadith Riwayat Muslim) 

3. Riwayat Ibnu Mas’ud secara marfu’ bahawa, “Sekiranya tidak tinggal kecuali hanya sehari sahaja daripada umur dunia ini nescaya Allah s.w.t. memanjangkan hari itu untuk menghantarkan padanya seorang lelaki dariku (dari ahli keluargaku) yang mana namanya sama dengan namaKu dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana sebelumnya ia dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman”. (Hadith Riwayat Abu Daud dan Tirmizi) 

4. Ummu Salamah r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Al Mahdi itu adalah daripada ahli keluargaku dari anak cucu Fatimah”. (Hadith Riwayat Abu Daud) 

5. Abu Sa’id Al Khudri meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Mahdi itu adalah daripadaku, luas dahinya, tinggi dan halus hidungnya, dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana ia sebelum itu dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman. Ia akan berkuasa selama tujuh tahun”. (Hadith Riwayat Tirmizi dan Abu Daud) 

6. Sayyidina Ali pernah memandang kepada anaknya seraya berkata: “Sesungguhnya anakku ini adalah penghulu sebagaimana telah dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. kepadanya (Al Hasan)”. “Daripada keturunannya akan lahir seorang yang dinamakan dengan nama Nabi kita. Ia menyerupai Baginda pada budi pekertinya dan tidak menyerupainya pada rupa parasnya”. (Hadith Riwayat Abu Daud) 

7. Abu Daud meriwayatkan daripada Ali r.a. daripada Nabi s.a.w. sabda Baginda: “Sekiranya hanya tinggal sehari sahaja dari umur dunia ini pasti Allah akan menghantar seorang daripada ahli rumahku, ia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan sebagaimana dunia sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman”. (Hadith Riwayat Abu Daud – Kitab Al Mahdi j.2 ms. 232) 

8. Abu Daud meriwayatkan daripada Ummi Salamah r.a. isteri Nabi s.a.w. daripada Nabi s.a.w. sabda Baginda: “Akan berlaku perselisihan ketika matinya seorang khalifah, ketika itu akan keluarlah seorang penduduk Madinah lari ke Makkah lalu ia didatangi oleh penduduk Makkah. Mereka mengeluarkannya dengan memaksa lalu berbai’ah kepadanya (untuk menentang) satu pasukan tentera daripada Syam. Tentera itu ditelan oleh bumi di satu kawasan padang pasir antara Makkah dan Madinah. Bila perkara itu dilihat oleh orang maka ia didatangi oleh ‘Abdal Syam dan beberapa kumpulan dari Iraq untuk berbai’ah dengannya. Kemudian muncul seorang pemuda daripada Quraisy. Bapa saudara sebelah ibunya daripada qabilah Kalb yang akan menghantar tentera untuk menentang orang itu (Al Mahdi) tetapi tenteranya (Al Mahdi) dapat mengalahkan mereka. Kerugian bagi orang yang tidak menyaksikan harta ghanimah qabilah Kalb. Dia (Al Mahdi) akan membahagikan harta ghanimah itu dan beramal mengikut sunnah Nabi mereka di kalangan manusia. Ketika itu Islam tersebar dengan luas. Dia akan memerintah selama tujuh tahun kemudian wafat dan jenazahnya disembahyangkan oleh orang-orang Islam. Abu Daud berkata: “Setengah perawi meriwayatkan daripada Hisyam sembilan tahun, setengah perawi pula meriwayatkan tujuh tahun”. (Hadith Abu Daud j.2 ms.232) 

9. Tirmizi meriwayatkan daripada Abi Sa’id Al Khudri katanya: “Kami bimbang akan berlaku sesuatu fitnah sesudah kewafatan Nabi kami, kerana itu kami bertanya Nabi s.a.w., sebagai menjawab Nabi s.a.w. berkata: “Sesungguhnya di kalangan ummatKu ada Al Mahdi. Ia akan muncul, dia akan hidup selama lima atau tujuh atau sembilan”. Zaidlah yang ragu. Berkata Abu Sa’id kami bertanya: “Apakah yang dimaksudkan lima, tujuh atau sembilan itu? “Rasulullah s.a.w. menjawab, “Tahun”. Kemudian Rasulullah s.a.w. menceritakan: “Orang datang kepadanya seraya berkata: “Wahai Mahdi! Berikan kepada saya”. Maka dapat dia mengaut harta dengan tangan dan diisi ke dalam kain orang itu sebanyak yang termampu dibawanya”. (Hadith Tirmizi j.2 ms.45 Bab Kemunculan Mahdi) 

10. Ibnu Majah meriwayatkan daripada Abdullah Ibnu Mas’ud katanya: “Ketika kami berada di samping Rasulullah s.a.w. tiba-tiba dalam beberapa orang anak muda dari Bani Hasyim. Bila mereka dilihat oleh Rasulullah s.a.w. berlinanglah air matanya dan berubahlah air mukanya langsung kami bertanya, “Kami adalah ahli keluarga yang Allah s.w.t. pilih untuk kami akhirat melebihi dunia. Sesungguhnya ahli keluargaku nanti akan menghadapi berbagai-bagai ujian, pengusiran dan penghalauan sehingga datang dari pihak Timur bersama mereka bendera-bendera hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikan maka mereka berperang sehingga mendapat kemenangan lalu diberikan kepada mereka apa yang dahulu mereka minta tetapi mereka tidak mahu pula sampailah mereka berikan bendera itu kepada seorang pemuda dari keluargaku. Ia akan memenuhi dunia dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana mereka (penduduk dunia) memenuhinya dengan kezaliman. Sesiapa yang sempat bertemu dengan mereka maka hendaklah ia datang kepada kumpulan itu walaupun dalam keadaan mengengsot di atas salji.” (Sunan Ibnu Majah ms 299) 

11. Ibnu Majah juga meriwayatkan daripada Sayyidina Ali r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Mahdi itu adalah dari ahli keluargaku. Allah s.w.t. akan melayakkannya hanya dalam satu malam.” (Sunan Ibnu Majah) Hadith riwayat Ibnu Majah ini juga dikemukakan oleh Tarmizi, Abu Daud dan Haakim. 

12. Haakim meriwayatkan dari Abu Hurairah katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Nanti akan keluar seorang yang dipanggil “Sufyani” dari tengah Damsyik. Kebanyakan yang mengikut mereka ialah dari qabilah Kalb. Dia akan membunuh orang sehingga membelah perut perempuan dan membunuh kanak-kanak. Maka berhimpunlah qabilah Qais untuk menentang mereka. Qabilah Qais dikalahkan sehingga tidak tinggal seorang pun dari mereka. Ketika itu keluar seorang dari ahli rumahku di Harrah. Berita kemunculannya akan sampai kepada Sufyani maka Sufyani dan bala tenteranya pergi untuk menyerangnya. Di satu padang pasir mereka ditelan oleh bumi dan tidak terselamat seorang pun dari mereka kecuali seorang yang menceritakan tentang mereka.” (Ini hadith sahih mengikut syarat Bukhari dan Muslim tetapi mereka berdua tidak mengemukakan di dalam kitab masing-masing) (Mustadrak Hakim j.4 ms 250) 

13. Hakim meriwayatkan daripada Ali bin Abi Talib r.a. katanya, “Akan berlaku fitnah yang mana daripada fitnah itulah lahir seorang manusia sebagaimana lahirnya emas di lombong. Oleh itu janganlah kamu memaki penduduk Syam. Tetapi makilah orang-orang yang zalim dari mereka kerana di kalangan mereka ada Abdal. Allah akan melepaskan hujan ke atas mereka sehingga menenggelamkan mereka dan mereka menjadi lemah sehingga mereka dapat dikalahkan oleh musang-musang. Ketika itu Allah akan menghantarkan seorang dari keluarga Rasulullah s.a.w. bersama 12,000 tenteranya jika mereka sedikit dan 15,000 jika mereka banyak. Tanda atau alamat mereka ialah “amt-amt”. Mereka akan berperang di bawah 3 panji-panji dan dilawan oleh tentera-tentera di bawah 7 panji-panji. Setiap panglima yang memimpin tentera di bawah panji-panji itu tamakkan kerajaan. Mereka akan berperang kemudian akan dikalahkan. Kemudian Allah akan melahirkan seorang dari keturunan Bani Hasyim. Dengan itu Allah mengembalikan kemesraan kehidupan penuh nikmat kepada manusia. Mereka terus berada dalam keadaan itu sampailah keluar dajjal.” (Mustadrak Al-Haakim j.4 ms 553). Di dalam riwayat ini walaupun tidak disebutkan nama dengan jelas tetapi dari riwayat Sayyidina Ali r.a. juga dikemukakan oleh Abu Daud (j.2 ms.232) dan Tirmizi (j.2 ms.16) ada disebutkan nama atau gelaran orang yang diutuskan oleh Allah s.w.t. itu dengan jelas. 

14. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Al Hanafiyyah katanya, “Kami pernah berada di samping Ali r.a. lalu ada seorang bertanya beliau tentang Al Mahdi. Maka Sayyidina Ali r.a. berkata, “Jauh.” Kemudian dia melipat jarinya 7 dan berkata, “dia akan keluar di akhir zaman ketika mana seorang yang berkata, “Allah! Allah!” dibunuh. Allah menghimpunkan satu golongan yang bertompokan seperti awan. Allah memesrakan di antara hati mereka. Mereka tidak takut dengan sesiapa dan tidak gembira dengan sesiapa pun. Dia masuk menemui mereka seramai bilangan ahli Badr. Orang-orang dahulu tidak mendahului mereka dan orang-orang kemudian tidak mendapat kedudukan mereka. Bilangan mereka juga seramai pengikut Thalut yang menyeberangi sungai bersamanya.” (Mustadrak Al-Haakim j.4 ms. 554) 

15. Daripada Abu Sa’id Al Khudri katanya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Qiamat tidak akan berlaku selagi bumi tidak dipenuhi dengan kekejaman dan kederhakaan. Kemudian keluar dari ahli rumahku orang yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana sebelumnya ia di penuhi dengan kezaliman dan kederhakaan.” (Mustadrak Haakim j.4 ms.557) Riwayat yang sama tersebut dalam Sunan Tirmizi, Abu Daud dan Ibnu Majah. Walaupun nama atau gelaran tidak tersebut dengan jelas namun ulamak hadith memasukkan hadith ini di bawah Bab Al Mahdi. Para pensyarah hadith juga mengatakan yang dimaksudkan dengan “orang itu” dalam hadith itu ialah “Al Mahdi.” 

16. Diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al Khudri katanya, “Rasulullah s.a.w. bersabda, “Al Mahdi itu adalah dari kalangan kami Ahlul Bait”. Hidungnya mancung bongkok, dahinya luas. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana dunia sebelum itu dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman. Dia hidup selama (sambil) Baginda Rasulullah membuka jari sebelah kiri dan dua jari sebelah kanan iaitu jari telunjuk dan jari tengah dan melipatkan jari daripadanya.” (Mustadrak Haakim j.4 ms.557) 

17. Daripada Abu Sa’id Al Khudri katanya Rasululah s.a.w. bersabda, “Bala akan menimpa ummat ini sehingga seseorang tidak akan mendapati satu pun tempat perlindungan daripada kezaliman. Ketika itu Allah s.w.t. akan menghantar seseorang dari keturunanku dari ahli rumahku. Allah s.w.t. akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana sebelum itu bumi telah dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman. Penghuni bumi dan penghuni langit senang dengannya. Langit tidak akan menahan titisannya sedikitpun melainkan akan dicurahnya melimpah ruah. Bumi tidak akan menahan sedikitpun airnya melainkan akan dikeluarkannya sehingga orang-orang yang hidup berkata, “Kalaulah orang-orang yang telah mati ada bersama mereka! Dia akan hidup selama 7 tahun atau 8 atau 9 tahun.” (Musannaf Abdul Razak j.11 ms.372) 

18. Diriwayatkan daripada Ibn Sirin daripada Abi Al Jalad katanya, “Fitnah akan berlaku kemudian akan disusuli oleh fitnah yang lain pula. Fitnah yang kemudian lebih hebat daripada sebelumnya, bagaikan cemeti disusuli mata pedang. Kemudian berlaku pula satu fitnah yang lain. Ketika itu tidak ada satu pun perkara yang diharamkan oleh Allah s.w.t. melainkan dihalalkan. Kemudian manusia akan berhimpun pada orang yang paling baik di antara mereka iaitu seorang yang tandanya akan datang kepadanya dengan mudah (dengan sendiri) ketika mana dia berada di rumahnya.” Perawi-perawi hadith ini semuanya tsiqah. (Musannnaf Abdul Razzak j.11 ms.372) 

19. Daripada Jaabir bin Abdillah katanya, “Ada seorang imam akan memimpim (di akhir zaman nanti). Dia tidak mengira (membilang) wang yang diberikan kepada orang ramai tetapi mengaut (wang untuk diberikan kepada mereka).” (Ibid j.11 ms.372) Hadith ini sahih. Maulana Habiburrahman A’zami di dalam hasyiahnya menulis bahawa hadith ini dikeluarkan oleh Al Bazzar dan Muslim daripada Abi Sa’id dan Jabir. Walaupun hadith ini mauquf tetapi ulamak hadith sepakat mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditanggap dengan qias diceritakan oleh sahabat adalah menyamai hadith marfu’ atau dikira sebagai hadith marfu’ apalagi jika dilihat bahawa hadith ini ada diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al Khudri secara marfu’ juga kendatipun tidak disebutkan nama atau gelaran di dalam hadith tersebut tetapi tindakan Abdul Razzak, Muslim dan lain-lain memasukkan hadith ini dalam Bab Kemunculan Mahdi maka ia menunjukkan bahawa lafaz “Imam” yang dimaksudkan didalam hadith ini ialah Al Mahdi. 

20. Diriwayatkan daripada Ali bin Abdillah bin Abbas katanya, “Al Mahdi tidak akan muncul selagi tidak terbit sesuatu tanda bersama matahari.” (Ibid j.11 ms.373) 21. Abu Sa’id Al Khudri berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Terimalah berita gembira denngan kedatangan Al Mahdi. Ia adalah dari Quraisy dari anak cucuku. Dia keluar ketika mana perselisihan di kalangan manusia berleluasa dan banyak gempa bumi berlaku. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana ia sebelum itu dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman. Penghuni bumi dan langit senang dengannya. Dia akan membahagikan-bahagikan harta dengan adil dan sama rata. Dia akan memenuhi hati manusia dengan rasa puas hati dan akan mengisi mereka dengan keadilan sehingga dia menyuruh orang yang menyeru, menyerukan, “Setiap yang ada hajat datanglah kepadaku.” Maka tidak ada yang datang melainkan seorang sahaja. Orang itu pun pergi meminta (sesuatu) darinya. Dia lantas berkata, “Pergilah kepada penjaga gedung untuk diberikan olehnya kepadamu.” Orang itu pun pergilah kepada penjaga gedung dan berkata, “Saya dihantar oleh Al Mahdi kepadamu untuk diberikan harta.” Penjaga gedung itu pun berkata, “Kautlah!” Orang itu pun terus mengaut tetapi tidak berdaya membawanya langsung ia meletakkan dan membawa sekadar yang termampu olehnya. Dia pun keluar. Setelah keluar dia menyesal dan berkata, “Akulah orang yang paling tamak dari ummat Muhammad ini. Semua orang dipanggil untuk mengambil harta tetapi tiada sesiapapun selainku mengambilnya. Maka dia mahu mengembalikannya kepada penjaga gedung harta yang diambilnya. Penjaga gedung itu pun berkata, “ Bila kami memberikan sesuatu kami tidak akan mengambilnya lagi.” Dia (Al Mahdi) hidup dalam keadaan ini selama 7 atau 8 atau 9 tahun dan tidak ada kelebihan lagi kehidupan sesudahnya.” (Mudtakhab Kanzul Ummal di tepi Musnad Imam Ahmad j.6 ms.29) 

22. Daripada Tsauban katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Bila kamu lihat panji-panji hitam dari pihak Khurasan maka pergilah kepadanya kerana di situ ada Khalifah Allah Al Mahdi.” (Ibid j.5 ms.177) 

23. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesudahku ada beberapa orang khalifah dan sesudah beberapa orang khalifah itu akan ada beberapa orang Amir, sesudah Amir itu akan ada beberapa orang Raja dan sesudah beberapa orang Raja itu akan ada beberapa orang Diktator. Kemudian akan keluar seorang dari ahli rumahku. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana ia sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Selepasnya akan memerintah seorang Qahthaaniy maka demi Tuhan yang mengutuskan daku dengan sebenar! Tidaklah ia kurang daripadanya (Al Mahdi).” (Ibid j.6 ms.300) 

24. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Seorang lelaki akan dibai’ahkan di antara Rukun dan Makam. Baitullah ini tidak akan dihalakan oleh sesiapa pun untuk berperang padanya. Bila manusia menganggap halal berperang padanya, maka semua akan binasa. Kemudian akan datang orang Habsyah, mereka semua akan merobohkan Baitullah ini sehingga tidak dapat dibangunkan lagi buat selama-lamanya. Merekalah yang mengeluarkan gedungnya.” (Ibid j.6 ms.32) 

25. Daripada Ali r.a. katanya, “Al Mahdi tidak akan muncul selagi sebahagian kamu tidak meludah ke muka sebahagian yang lain.” (Ibid j.6 ms.33) 

26. Daripada Ali r.a katanya, “Bila keluar tentera Sufyaani di Kufah maka ia akan dihantar untuk mencari penduduk Khurasan dan orang-orang Khurasan yang akan keluar mencari Al Mahdi. Mereka akan bertemu dengan kumpulan yang menjulang panji-panji hitam dan bertemu dengan Al Hasyimi. Pasukan tentera itu akan dikepalai oleh Syu’ib bin Soleh. Peperangan di antara Hasyimi dan Sufyaani akan berlaku di pintu Istakhar dengan hebat sekali tetapi akhirnya kumpulan bendera hitam dapat mengalahkan tentera Sufyaani. Tentera Sufyaani akan cabut lari. Pada ketika itu ramai orang yang mencita-citakan Al Mahdi dan mereka mencarinya.” (Ibid j.6 ms33) 

27. Daripada Ali r.a. katanya, “Al Mahdi itu adalah seorang pemuda Quraisy yang berkulit putih kemerahan dan bertubuh kemas.” (Ibid j.6 ms.24) 28. Daripada Ali r.a katanya, “Akan dihantar tentera ke Madinah. Mereka akan menangkap keluarga Nabi s.a.w. dan akan dibunuh ramai daripada lelaki dan perempuan Bani Hasyim. Ketika itu Al Mahdi dan Mubayyidh akan lari dari Madinah dan Mekah.” (Ibid j.6 ms.33) 

29. Imam Ahmad, Tirmizi dan Nu’aim bin Hammad menukilkan dari Abu Hurairah katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Akan keluar daripada Khurasan panji-panji hitam. Tidak ada satu apa pun akan dapat menahannya sampailah panji-panji itu dipacak diatas Ilya’.” (Al Hawi Li Al Fatawi j.2 ms.60) 

30. At Tabrani menukilkan di dalam Mu’jam Al Ausath daripada Ibnu Umar bahawa Nabi s.a.w. pernah memegang tangan Ali r.a. seraya berkata, “Akan keluar dari sulbi dia ini (dari keturunannya) seorang pemuda yang memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kesaksamaan. Bila kamu lihat keadaan itu hendaklah kamu ikuti pemuda At Tamimi. Dia akan datang dari Timur dan dialah yang memegang bendera Al Mahdi.” (Ibid j.2 ms.62) 

31. Abu Nua’im meriwayatkan daripada Jaabir katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Isa anak Maryam akan turun. Maka berkatalah pemimpin mereka, Al Mahdi, “Silalah menjadi imam sembahyang untuk kami!” tetapi Nabi Isa berkata, “Sesungguhnya sebahagian kamu adalah pemimpin kepada sebahagian yang lain (Baginda menyatakan begitu sebagai menyatakan penghormatan Allah kepada ummat ini)”. (Ibid j.2 ms.64) 

32. Ibn Majah, Ar Ruyani, Ibn Khuzaimah, Abu ‘Awaanah, Haakim dan Abu Nua’im meriwayatkan daripada Abi Umamah katanya, “Pernah Rasulullah s.a.w. berucap di hadapan kami. Baginda menyebutkan dajjal dan juga bahawa Madinah akan menolak kekotoran daripadanya sebagaimana penyembur api menolak kotoran daripada besi, hari itu dipanggil hari pembersihan. Ummu Syarik bertanya “Di manakah oramg-orang Arab pada masa itu ya Rasulullah?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Mereka pada masa itu sedikit dan Imam mereka ialah Al Mahdi, seorang lelaki yang soleh. Sedang Imam mereka tampil ke hadapan untuk menjadi Imam sembahyang Subuh tiba-tiba turun kepada mereka Isa Ibn Maryam pada waktu subuh itu. Imam itu pun undur kebelakang supaya Isa tampil ke hadapan (untuk menjadi imam). Maka Isa pun meletakkan tangannya diantara dua belikat Imam itu kemudian berkata kepadanya, “Pergilah ke hadapan dan imamkanlah sembahyang kerana iqamat tadi untukmu. Maka Imam mereka itulah yang menjadi imam sembahyang kepada mereka”. (Ibid j.2 ms.65) 

33. Daraqutni menukilkan dalam sunannya daripada Muhammad bin Ali katanya, “Sesungguhnya Mahdi kita itu mempunyai dua tanda yang tidak pernah terjadi semenjak Allah s.w.t menjadikan langit dan bumi. Bulan gerhana pada malam pertama bulan Ramadhan kemudian matahari pula gerhana pada pertengahan bulan Ramadhan itu. Kedua-dua tanda ini tidak pernah berlaku semenjak Allah s.w.t. menjadikan langit dan bumi”. (Sunan Ad Daraqutni j.2 ms.65) 

34. Abu Nua’im meriwayatkan dari Abi Umamah katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Di antara kamu dan orang-orang Rom akan berlaku 4 kali perdamaian. Pada kali keempatnya berlaku di tangan salah seorang daripada keluarga Hiraqlu. Perjanjian itu berterusan selama 7 tahun”. Ada seorang sahabat bertanya Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulullah! Siapakah Imam orang ramai (orang Islam) pada hari itu?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Al Mahdi daripada anak cucuku. Dia berumur 40 tahun, mukanya bagai bintang yang bersinar-sinar, di pipi sebelah kanannya terdapat tahi lalat hitam, dia memakai dua jubah Qatwaniyyah bagaikan pemuda Bani Israel. Dia mengeluarkan gedung-gedung dan menakluk negeri-negeri syirik”. (Al Hawi Li Al Fatawi j.2 ms.66) 

35. Nua’im bin Hammad meriwayatkan daripada Muhammad bin Al Hanafiyyah katanya, “Akan keluar panji-panji hitam anak cucu Al Abbas. Kemudian keluar daripada Khurasan panji-panji hitam yang lain. Songkok mereka hitam, pakaian mereka putih. Mereka dipimpin oleh pemuda yang dipanggil Syua’ib bin Soleh daripada Bani Tamim. Mereka akan mengalahkan tentera Sufyaani sehinggalah sampai ke Baitulmaqdis. Dia meratakan jalan untuk kekuasaan Al Mahdi dan membantunya dengan 300 orang tentera daripada Syam. Jarak masa di antara keluarnya dengan masa ia menyerahkan kepimpinan kepada Al Mahdi ialah 72 bulan.” (Ibid j.2 ms.68) 

36. Nua’im bin Hammad meriwayatkan daripada Alqamah katanya, “Akan keluar membawa panji-panji Al Mahdi seorang anak muda, nipis janggutnya, kuning warna kulitnya. Jika dia memerangi gunung akan bergoyanglah gunung hingga sampai ke Ilya’ (di Palestin).” (Ibid j.2 ms.68) 

37. Nua’im bin Hammad meriwayatkan daripada Sayyidina Ali r.a. katanya, “Bendera-bendera akan keluar untuk memerangi tentera Sufyaani. Di kalangan mereka ada pemuda Bani Hasyim. Di tapak tangan kirinya ada tanda. Tenteranya diketuai oleh seorang dari Bani Tamim dipanggil Syua’ib bin Soleh. Dia akan mengalahkan tentera-tentera Sufyaani”. (Ibid j.2 ms.69) 

38. Nua’im bin Hammad meriwayatkan daripada Ibn Mas’ud katanya, “Bila terhenti perdagangan dan jalan-jalan fitnah banyak berlaku, akan keluarlah 7 orang ulamak dari pelusuk dunia yang berlainan (tempatnya) dengan tidak berjanji. Setiap orang dari mereka dibai’ahkan oleh tiga ratus dan belasan orang lelaki sehinggalah mereka berjumpa di Mekah. Maka bertemulah 7 orang itu. Sebahagian mereka bertanya kepada sebahagian yang lain, “Apakah yang membuatkan kamu datang ke sini?” Mereka berkata, “Kami datang mencari orang yang sepatutnya fitnah-fitnah ini tenang di tangannya dan Konstantiniyyah akan ditaklukinya. Kami mengenalinya dengan namanya, nama ayahnya, nama ibunya dan tenteranya. Maka ketujuh orang ulamak itu bersepakat di atas perkara tersebut. Mereka pun mencarinya dan menemuinya di Mekah. Mereka berkata kepadanya, “Engkaulah fulan bin fulan?” Dia menjawab “Tidak; Bahkan saya adalah daripada Ansar”. Sehinggalah dia melepaskan diri dan lari daripada mereka. Tujuh orang ulamak itu pun menggambarkan sifat-sifatnya kepada orang-orang yang mengetahui tentangnya dan mengenalinya, maka dikatakan, “Itulah orang yang kamu cari! Dia sudah pergi ke Madinah”. Mereka pun pergi mencarinya di Madinah tetapi dia melarikan diri pula. Mereka datang pula ke Mekah mencarinya dan menemuinya lalu berkata, “Engkau fulan bin fulan? Ibumu fulanah binti fulan? Padamu ada tanda begini….begini….engkau telah melarikan diri daripada kami sekali. Sekarang hulurkanlah tanganmu untuk kami berbai’ah denganmu.” Dia berkata, “Aku bukan orang yang kamu cari itu!” Sehingga ia melarikan diri daripada mereka. Mereka mencarinya semula di Madinah, dia pula datang ke Mekah. Kemudian mereka menemuinya di Mekah dekat Rukun dan Maqam. Mereka pun berkata kepadanya, “Engkaulah tangggung dosa kami dan darah-darah kami dipikul olehmu jika engkau tidak hulurkan tanganmu untuk kami berbai`ah denganmu. Ini tentera-tentera Sufayaani telahpun menghadap untuk mencari kita. Mereka dipimpin oleh seorang lelaki daripada Hiram”. Maka dia pun duduk di antara Rukun dan Makam Ibrahim serta menghulurkan tangan lalu dibai’ahkan kepadanya. Ketika itu Allah campakkan perasaan kasih sayang kepadanya di dalam hati manusia dan dia pun bersama golongan yang bagaikan singa-singa di waktu siang dan bagaikan rahib-rahib di waktu malam.” (Ibid j.2 ms.72) 

39. Nua’im bin Hammad meriwayatkan daripada Abi Thufail bahawa Rasulullah s.a.w. menggambarkan sifat Al Mahdi. Baginda s.a.w. menyebutkan bahawa terdapat sedikit kegagapan pada lidahnya. Bila dia terlambat untuk mengatakan sesuatu (kerana gagap) dia akan memukul peha dengan tangan kanannya. Namanya seperti namaku dan nama ayahnya seperti nama ayahku.” (ibid j.2 ms.73) 40. Nua’im bin Hammad meriwayatkan daripada Ali r.a. daripada Nabi s.a.w. sabda Baginda, “Mahdi itu adalah seorang daripada cucuku. Dia akan berperang mengikut sunnahku sebagaimana aku berperang mengikut wahyu”. (Ibid j.2 ms.74)

B. AL MAHDI MENURUT ULAMAK-ULAMAK HADITH DAN USULUDDIN 

Daripada cara tokoh-tokoh hadith mengemukakan persoalan Al Mahdi dengan mengadakan bab-bab khusus dapat diketahui peri pentingnya persoalan Al Mahdi itu di sisi mereka dan bagaimana pegangan mereka tentang aqidah kemunculan Al Mahdi. Apabila seseorang tokoh hadith mengadakan bab untuk sesuatu perkara, bermakna perkara itu adalah tsabit dan terbukti di sisinya berdasarkan hadith Rasulullah s.a.w. terutamanya bila disebutkan di bawah bab itu beberapa hadith dan kemudian dia tidak membuat apa-apa komentar terhadapnya. 

Berdasarkan sikap dan tindakan mereka dapat kita simpulkan bahawa mereka berpegang dengan apa yang disebutkan di dalam hadith yang dikemukakan sebagai aqidah apabila hadith-hadith itu tidak termasuk di dalam bahagian amal tetapi termasuk di dalam bahagian kepercayaan. Bab kemunculan Al Mahdi selalunya diletakkan oleh ulamak-ulamak hadith di bawah tajuk besar iaitu “Kitab Al Fitan”. Di sini akan kita kemukakan beberapa orang tokoh hadith dengan method penulisan mereka sendiri yang telah mengemukakan hadith-hadith Al Mahdi dengan terang-terangan menyebutkan gelaran itu di dalam kitab mereka. 

1. Imam Abu Daud – Beliau ialah Sulaiman bin Al Asy-ats bin Ishak bin Baasyir bin Syaddad bin ‘Amr bin Imran Al Azdi Assijistaaniy (w.275H). beliau telah mengadakan bab khusus berhubung dengan Al Mahdi di dalam kitab Al Fitan j.2 ms 232-233. Di dalamnya dikemukakan beberapa hadith dengan sanad-sanadnya yang lengkap dengan tidak membuat apa-apa komentar terhadap hadith itu yang mana mengikut kaedahnya sekurang-kurangnya hadith itu bertaraf hasan. 

2. Imam At Tirmizi – Beliau ialah Abu ‘Isa Muhammad bin Tsaurah bin Musa bin Dhahhak As Sulami Al Bughiy (w.279H). Di dalam kitabnya “Sunan” di bawah tajuk “Abwab Al Fitan” Imam At-Tirmizi telah mengadakan satu bab khusus bertajuk “Baabu Ma Jaa-a Fi Al Mahdi” j.2 ms.47. Beliau telah mengemukakan beberapa hadith yang lengkap dengan sanad-sanadnya antaranya yang telah dikemukakan sebelum ini. Daripada itu tindakan itu dapat diketahui dengan pandangan beliau tentang Al Mahdi. 

3. Imam Ibnu Majah - Beliau ialah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Abdillah bin Majah Al Qazwini (w273H). Beliau telah menukilkan beberapa hadith dengan sanad-sanadnya berhubung dengan kemunculan Al Mahdi di dalam Bab Al Fitan. Daripada hadith yang dikemukakan beliau dapat diputuskan bahawa beliau memang mempercayai demikian. Memang benar terdapat beberapa hadith maudhu’ di dalam kitab Sunan Ibn Majah itu tetapi hadith-hadith berhubung dengan Al Mahdi yang dikemukakan oleh beliau tidak termasuk dalam hadith-hadith maudhu’ dan tidak ada sesiapa pun dari tokoh-tokoh hadith yang menghukum maudhu’ hadith-hadith itu. 

4. Imam Abdul Razzak bin Hammam bin Naafi’ (w.211H). Beliau telah mengadakan satu bab berhubung Al Mahdi di dalam kitabnya “Musannaf”. Di dalam kitab itu beliau telah meriwayatkan beberapa hadith tentang kemunculan Al Mahdi (lihat j.11 ms.371-374) 

5. Abu Abdillah Al Haakim An Naisaburi. Beliau telah menukilkan banyak sekali riwayat tentang kemunculan Al Mahdi di dalam kitabnya “Al Mustadrak” (lihat Mustadrak j.4 ms.502, 520, 553, 554, 557, dan 558). Daripada tindakan beliau ini dapat difaham bahawa beliau memang beri’tikad tentang kemunculan Al Mahdi. Kerana itulah beliau telah mengemukakan hadith-hadith mengenainya di dalam kitab tersebut. 

6. Imam As Suyuthi (w.911H). Di dalam kitab-kitab beliau iaitu Jam’ul Jawaami’, Al Jaami’ul Shaghir dan lain-lain telah mengumpulkan sekian banyak hadith-hadith tentang kemunculan Al Mahdi. Bahkan beliau telah menulis satu maqalah khusus berhubung dengan Al Mahdi ini. Di dalamnya beliau mengumpulkan sebahagian besar daripada hadith-hadith mengenainya selain daripada menekankan tentang termasuknya perkara Al Mahdi itu di dalam bab aqidah. Risalah itu bernama Al ‘Arfu Al Wardi Fi Akhbari Al Mahdi dan risalah ini kemudiannya dimasukkan ke dalam kitabnya “Al Hawi Li Al Fatawi” (j.2 ms.57-58) 

7. ‘Alauddin Ali Al Muttaqiy Al Hindi penyusun kitab Jam’ul Jawaami’ karangan As Suyuthi yang berselerak ke dalam bab-bab yang lengkap dan tersusun rapi lalu kemudiannya dikeluarkan dengan nama Kanzu Al ‘Ummal juga telah menyediakan satu bab khusus berkenaan dengan Al Mahdi. Di dalam bab itu telah dikemukakan 30 riwayat mengenainya (lihat Kanzu ‘Ummal j.4 ms.584-599). Di dalam kitabnya Muntakhab Kanzul ‘Ummal juga diadakan satu tajuk berhubung dengan Al Mahdi dan di bawahnya dikemukakan beberapa hadith mengenainya (lihat Muntakhab Kanzu Al Ummal di tepi Musnad Imam Ahmad – j.6 ms.29-37) 

8. Imam Ahmad bin Hambal (w.241H) juga telah meriwayatkan beberapa hadith berhubung dengan kemunculan Al Mahdi di dalam Musnadnya. Daripada sikap beliau dapat difahami pendirian beliau tentang kemunculan Al Mahdi sebagai satu aqidah. 

9. Hafidz Nuruddin Ali bin Abi Bakr Al Haitsami (w.807H). Beliau telah menukilkan riwayat daripada Abu Sa’id Al Khudri di dalam kitabnya “Majma’u Az Zawaa’id” tentang kemunculan Al Mahdi. (j.7 ms.314). Selepas mengemukakan riwayat ini beliau mengatakan Imam Ahmad di dalam Musnadnya begitu juga Abu Ya’la di dalam Musnadnya telah mengemukakan riwayat ini dengan beberapa sanadnya yang mana perawi-perawinya adalah tsiqah. 

10. Imam Abu Ya’la Al Maushili (w.307) di dalam kitabnya Musnad juga telah meriwayatkan hadith-hadith tentang Al Mahdi dengan terang-terangan menyebutkan gelarannya dengan sanad-sanadnya yang sahih. 

11. Hafidz Ibn Hajar Al Atsqalani di dalam “Fathu Al Baari” ada menukilkan kata-kata Abul Hasan Al Khas’i Al ‘Abdi di dalam kitabnya Manaqib As Syafi’i beliau menyebutkan bahawa hadith-hadith telah sampai kepada kita secara mutawaatir bahawa Al Mahdi iu adalah daripada ummat ini dan Nabi Isa a.s akan bersembahyang di belakangnya (Fathu Al Baari j.13 ms.256). Di dalam kitabnya Syarah Nukhbatu Al Fikar Hafidz Ibn Hajar menerangkan bahawa hadith-hadith mutawaatir itu tidak perlu dibahas lagi tentang perawi-perawinya bahkan wajib beramal dengannya tanpa perbahasan lagi. (ms.12) 

12. Syah Waliyullah (w.1176H) menyebutkan di dalam kitabnya ‘Izqalatu Al Khafa’ bahawa kita mengetahui dengan penuh yakin bahawa Nabi s.a.w. telah menyebutkan dengan terang bahawa Imam Mahdi itu akan muncul sebelum qiamat dan beliau adalah khalifah yang benar di sisi Allah s.w.t. dan RasulNya s.a.w. Dia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman. Dari hadith ini diketahui bahawa khilafah Imam Mahdi itu adalah sesuatu yang mesti (wajib).(Izqatulatu Al Khafa’ j.1 ms.6) 

13. Maulana Muhammad Idris Khandahlawi mengemukakan nukilan As Suyuthi daripada kata-kata Abul Hasan Muhammad bin Al Husain bin Ibrahim bahawa “hadith-hadith kedatangan Al Mahdi dan ia dari Ahlul Bait Nabi s.a.w. telah sampai kepada kita secara mutawaatir dan ramai sekali perawi-perawinya daripada Nabi s.a.w.” Beliau juga menyebutkan bahawa hadith-hadith marfu’ tentang Al Mahdi melebihi 90 bilangannya selain daripada atsar sahabat Rasulullah s.a.w. (At Ta’liqu As Sabih j.6 ms.197-198) Di satu tempat lain, Maulana Idris menulis, “Ringkasnya hadis-hadis tentang kemunculan Al Mahdi telah sampai ke peringkat mutawaatir kerana terlau banyaknya. Ummah telah menerimanya dengan baik. Oleh itu, wajib beri’tiqad tentangnya dan tidak harus menolak dan mengingkarinya sebagaimana telah dinyatakan oleh ulamak mutakallimun sebagai salah satu aqidah yang mesti dii’tiqadkan oleh setiap orang Islam. (At Ta’liqu As Sabih, j.6 ms.198) 

a) Di antara kitab-kitab usuluddin pula yang membincangkan perkara ini dikemukakan sebagai contohnya “Syarah Aqidah As Safarini”, di dalamnya pengarangnya ada menyebutkan tentang masalah kemunculan Al Mahdi dengan panjang lebar sekali. Selepas mengemukakan sekian banyak hadith-hadith berhubung dengan kemunculan Al Mahdi, pengarangnya menulis, “Bahawa telah banyak riwayat-riwayat sampai kepada kita tentang kemunculan Al Mahdi itu sehingga ia telah sampai ke peringkat “tawaatur ma’nawi” dan perkara ini tersebar dengan luas di kalangan ulamak Ahlus Sunnah sehingga dikira sebagai salah satu aqidah mereka. Jadi beriman dengan kemunculan Al Mahdi adalah wajib sebagaimana telah ditentukan di sisi ahli ilmu dan telah dibukukan di dalam “Aqa’id ahlus Sunnah Wal Jamaah.” (j.2 ms.80) 

b) Di dalam sebuah kitab aqidah yang masyhur “Nukhbatu Al La-ali Syarah Nadzam Badi’ Al Amali” pengarangnya Allamah Muhammad bin Sulaiman Al Halabiy menulis, “Ketahuilah bahawa wajib beriman dengan turunnya ‘Isa a.s. Demikian juga dengan keluarnya Al Mahdi.” (ms.71)

C. SANGKALAN SESETENGAH PIHAK TERHADAP HADITH-HADITH AL MAHDI 

Sebenarnya sangkalan terhadap hadith-hadith yang telah menyebutkan Al Mahdi dari mana-mana pihak sekalipun sekarang ini adalah berasaskan kritikan yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun di dalam “Muqaddimah”nya fasal ke-52. Maulana Badri ‘Alam murid kepada Allamah Anwar Syah Kashmiri di dalam kitabnya “Tarjuman As Sunnah”(j.4 ms.381) menyebutkan telah ramai ulamak menjawab hujjah-hujjah Ibn Khaldun itu. Di antara jawapan dari pihak jumhur ulamak ialah sebuah kitab yang bernama “Ibraazu Al Wahmi Al Maknun Min Kalami Ibni Khaldun”. Hadith-hadith tentang Al Mahdi yang dipertikaikan oleh Ibn Khaldun ada 28 kesemuanya. Oleh kerana hujjah-hujjah yang dikemukakan oleh beliau agak panjang apa lagi ditambah dengan jawapan-jawapan oleh pihak ulamak terhadapnya, maka saya kira tidak perlu dikemukakan semua itu. Walau bagaimanapun boleh disimpulkan bahawa penolakan Ibn Khaldun terhadap hadith-hadith Al Mahdi itu adalah berdasarkan 3 alasan sebagaiman disebutkan oleh beliau sendiri: 
i. Bila berlaku jarh dan ta’adil terhadap perawi maka perlu ditarjihkan pihak jarh. 

ii. Tidak ada satu pun hadith Al Mahdi tersebut di dalam Bukhari dan Muslim. 

iii. Hadith-hadith sahih berhubung dengan perkara ini tidak menyebutkan perkataan “Al Mahdi” atau namanya dengan terang.(Muqaddimah Ibn Khaldun ms.312, 316 & 322) Sikap Ibn Khaldun ditolak oleh ulamak, umpamanya Maulana Idris Khandahlawi mengatakan, “Ketahuilah bahawa ada di antara ahli sejarah telah mencederakan hadith-hadith Al Mahdi dengan berkata ianya adalah hadith-hadith dha’if kerana itulah Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya” maka cenderunglah ahli sejarah itu (Ibn Khaldun) kepada menyangkal kemunculan Al Mahdi secara total. Sebenarnya itu adalah satu kesalahan dan sikap melampau.” (At Ta’liqu As Sabih, j.6 ms.197) 

Kemudian beliau berkata, “Adapun alasan ahli sejarah itu bagi mengingkari kemunculan Al Mahdi bahawa Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya, maka itu adalah alasan lemah dan tidak dapat diterima kerana Bukhari dan Muslim tidak menghabisi mengemukakan hadith-hadith sahih. Di sana terdapat beribu-ribu hadith sahih yang tidak dikemukakan oleh Bukhari dan Muslim tanpa syak dan ragu lagi di sisi imam-imam hadith.” (Ibid, j.6 ms.198) 

Sebagai menjawab kemusykilan yang dikemukakan Ibn Khaldun tentang tidak tersebutnya dengan terang perkataan “Al Mahdi” atau namanya di dalam hadith-hadith sahih terutamanya Bukhari dan Muslim, Maulana Idris menulis, “Hafidz Jalaluddin As Suyuti telah mengemukakan 90 hadith dengan panjang lebar di dalam risalahnya “Al ‘Arfu Al Wardi” dan di dalam 36 hadith daripadanya tersebut dengan terang nama “Al Mahdi” itu sementara di dalam hadith-hadith selainnya tersebut perkataan “Khalifah” bersama dengan sifat-sifatnya yang tersebut di dalam hadith-hadith Al Mahdi yang lain. Berdasarkan hakikat ini terhapuslah alasan ahli sejarah tersebut bahawa “hadith-hadith Al Mahdi tersebut secara samar” kerana sesuatu yang samar (mubham) semestinya diletakkan di atas yang terang (mufassar) menurut ijma’ ulamak-ulamak hadith jika hadith itu sama. 

Selain dari itu, tindakan imam-imam hadith yang mengemukakan hadith-hadith yang samar itu dalam bab “Al Mahdi” menunjukkan hadith-hadith samar yang berkaitan dengan keluarnya seorang khalifah yang adil di akhir zaman dikaitkan dengan Al Mahdi mengikut tokoh-tokoh hadith. (Ibid j.6 ms.198) 

Sikap Ibn Khaldun yang kelihatan agak keras dan terlau kritis berkenaan dengan hadith-hadith Al Mahdi itu sebenarnya mempunyai latar belakang yang tersendiri iaitu sampai ke zaman beliau iaitu abad ke-8 H. Sudah sekian banyak dakwaan-dakwaan sebagai Al Mahdi terbit dari berbagai-bagai pihak sehingga menyesatkan pula sekian ramai umat Islam dan terdapat sekian banyak pula hadith-hadith palsu mengenainya. 

Justeru itu beliau mengambil sikap yang sangat kritis dan terlalu berhati-hati dengan hadith-hadith berhubung dengan Al Mahdi itu sehingga umpamanya jika terdapat seorang sahaja yang dikatakan Syi’ah di dalam sesuatu sanad hadith terus akan ditolak oleh beliau kerana golongan itulah yang paling banyak sekali terlibat dalam penciptaan hadith-hadith palsu berhubung dengan Imam Mahdi tetapi perlu sekali diingati bahawa ulamak-ulamak yang sederhana sikapnya tetap meneliti dan menilai hadith-hadith berhubung dengan Al Mahdi dengan adil dan saksama. Kerana bagi mereka tidak ada ertinya menafikan sesuatu hakikat yang sememangnya ada semata-mata terdapat kekeliruan dan kepalsuan di sekitarnya. Selain dari itu di sana terdapat beribu-ribu ulamak Islam di dalam berbagai-bagai-bidang terutamanya di bidang hadith telah menerima kewujudan dan kemunculan Al Mahdi di akhir zaman nanti berdasarkan hadith-hadith Rsaulullah s.a.w. Tokoh-tokoh hadith itu lebih arif dan lebih cermat di dalam penilaian sesuatu hadith jika dibandingkan dengan Ibn Khaldun yang memang diakui sebagai tokoh dan bapa di dalam Ilmu Kemasyarakatan dan Falsafah Sejarah. Tetapi kedudukannya di bidang hadith tidaklah dapat menyamai apalagi mengatasi tokoh-tokoh hadith seperti Ibn Hajar Al Haitsami dan lain-lain lagi.

D. PENENTUAN SESEORANG SEBAGAI AL MAHDI 

Zaman pemerintahan Al Mahdi di akhir zaman itu adalah suatu zaman pemerintahan Islam yang gemilang dan berada di puncak keadilan dan kemewahannya. Kerana itu kita dapati apabila seseorang terutama pemerintah itu adil maka ada-ada saja orang yang bertanya, “Adakah dia Al Mahdi yang dimaksudkan?” Perkara ini dapat di lihat, umpamanya: 

1. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan daripada Haakim bin Sa’ad katanya, “Bila Sulaiman bin Abdul Malik menjadi khalifah dan dia telah melakukan sumbangan dan kebaikan kepada negara, akupun berkata Abi Yahya, “Adakah dia ini Al Mahdi yang di sebutkan itu?” Jawabnya, “Bukan.” (Al Hawi Li Al Fatawi, j.2 ms.80) 

2. Pernah disebutkan di depan Mathar tentang Umar bin Abdul Aziz (sebagai Al Mahdi) maka beliau berkata, “Kami mendapat tahu (melalui hadith-hadith) bahawa Al Mahdi itu akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz.” Kami pun bertanya, “Apa dia?” Dia menjawab, “Orang datang kepadanya (Al Mahdi) lalu meminta kepadanya (harta), langsung dia berkata, “Masuklah ke dalam perbendaharaan negara dan ambillah sebanyak mana yang engkau mahu. Maka dilihat orang ramai semuanya kekenyangan lalu menyesallah dia dan kembali semula kepada Al Mahdi seraya berkata, “Ambillah apa yang engkau telah berikan kepadaku”, tetapi Al Mahdi enggan dan dia akan berkata, “Bila kami memberikan sesuatu, kami tidak akan mengambilnya kembali.” (Ibid j.2 ms.77) 

3. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan daripada Ibrahim bin Maisarah katanya, “Aku bertanya Thaus, “Umar bin Abdul Aziz itukah Al Mahdi ?” Beliau menjawab, “Memang dia Al Mahdi tetapi bukan lagi yang sebenar (yang dimaksudkan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam banyak hadith Baginda) belum lagi keadilan sepenuhnya dijalankan di zaman pemerintahannya (seperti yang berlaku di zaman pemerintahan Imam Mahdi di akhir zaman). (Ibid, j.2 ms.80) 

4. Di riwayatkan daripada Abu Jaafar Muhammmad Al Baqir katanya, “Mereka mendakwa aku Al Mahdi sedang aku nampak ajalku lebih hampir daripada apa yang didakwakan oleh mereka terhadapku.” (Ibid, j.2 ms.81) 

5. Abu Ishaq As Sabi’i selalu berkata, “Jika kamu melihat Muawiyah atau sempat dengan zaman pemerintahannya, maka (kerana keadilan dan kesaksamaan di dalam pemerintahannya) kamu akan menganggapnya Al Mahdi.” (Al Bidayah Wa An Nihayah, j.8 ms.145) 

6. Demikian juga dinukilkan bahawa Mujahid ada berkata, “Jika kamu sempat dengan zaman pemerintahan Muawiyah tentu kamu berkata, “Inilah Al Mahdi” (Al ‘Awasim Min Al Qawasim, ms.205) 

Mungkin keterangan-keterangan seperti ini mengelirukan sesetengah golongan kerana di sini kelihatan beberapa tokoh Islam dari kalangan sahabat dan tabi’in telah dikatakan sebagai “ Al Mahdi ” tetapi jika diperhatikan dengan teliti tentu tidak akan timbul sebarang kekeliruan walaupun riwayat-riwayat itu menyebutkan orang-orang tertentu selain daripada Al Mahdi yang sebenar sebagai Mahdi kerana daripada riwayat-riwayat itu dapat difaham beberapa perkara: 

(a) Mahdi yang sebenarnya ialah seperti yang disebut di dalam hadis-hadis Rasulullah s.a.w. “ Akan datang di akhir zaman. Dia akan memenuhi dunia ini dengan keadilannya setelah ia dipenuhi dengan kezaliman.” 

(b) Riwayat-riwayat seperti tadi hanya bermaksud mengumpamakan mereka dengan Al Mahdi yang sebenarnya sahaja. Lantaran telah jelas kepada mereka Al Mahdi yang sebenar itu bukannya dimaksudkan mereka sendiri sebagai Al Mahdi. 

(c) Gelaran “ Al Mahdi ” memang telah diberi dan selalu diberikan kepada sesiapa sahaja dari pemerintah yang adil dengan menjalankan hukum-hukum Islam serta mengikut kehendak-kehendaknya dengan betul. Ini sama seperti perkataan “dajjal” digunakan kepada orang-orang penipu dan pemusnah aqidah ummat di setiap zaman walaupun dajjal yang sebenar bukannya mereka dan sedia diketahui daripada hadis-hadis Rasulullah s.a.w. sifat-sifatnya. Perkara ini dapat dilihat umpamanya di dalam apa yang diriwayatkan: 

(i). Daripada Ibn Umar bahawa dia pernah berkata kepada Ibnul Hanafiyyah, “Al Mahdi digunakan oleh mereka sebagai istilah untuk orang yang baik.” 

(ii). Nabi s.a.w. mendoakan Muawiyah, “Ya Allah! Jadikanlah dia (Muawiyah) Haadi (pemimpin) lagi Mahdi (yang terpimpin) dan pimpinlah manusia dengannya.” (Hadith Riwayat At-Tirmizi) 

(iii). Rasulullah s.a.w. juga pernah mengajarkan kepada Ammar bin Yassir cara bagaimana berdoa. Antara yang diajarkan ialah, “Ya Allah! Jadikanlah kami “Hudaatan Mahdiyyin.” Jadi menggunakan istilah “Mahdi” dalam erti yang umum kepada seseorang yang soleh terutama kepada pemerintah yang adil bukanlah sesuatu yang menyalahi ajaran agama Islam. Sebagaimana mengatakan kepada seseorang perosak agama sebagai “dajjal” buka juga sesuatu yang salah. Hanya menjadi kesalahan apabila seseorang yang bukan “Mahdi sebenarnya” dianggap sebagai yang disebut-sebutkan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam banyak hadith Baginda s.a.w. seperti yang sebelum ini. 

Memang telah ramai berlalu orang-orang yang telah dianggap sebagai Al Mahdi seperti yang tersebut di dalam hadith-hadith Rasulullah s.a.w. yang akan keluar di akhir zaman itu tetapi mereka sebenarnya bukanlah Al Mahdi itu lantaran tidak menepati sifat-sifat dan gambaran yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam hadith-hadith baginda s.a.w. yang sangat banyak itu. Syiah Kaisaniyyah menganggap Muhammad bin Hanafiyyah sebagai Al Mahdi. Syiah Saba’iyyah menganggap Saidina Ali sebagai Al Mahdi. Muhammmad bin Tumart juga telah dianggap orang sebagai Al Mahdi. Ubaidullah bin Maimun Al Qaddah juga dipercayai sebagai Al Mahdi. Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah pula menganggap Muhammad bin Hasan Al ‘Askari sebagai Al Mahdi yang ditunggu-tunggu kemunculannya Di negara kita ini pun tidak kurang bilangan orang yang dipercayai atau didakwa sebagai Al Mahdi. Ada Al Mahdi yang didakwa oleh mereka itu telahpun mati dan diakui oleh pengikut-pengikutnya sendiri. Ada juga yang dipercayai telah ghaib. Ada yang ghaib ketika masih kecil, ada pula yang ghaib ketika umur sudah tua. Ada yang mendakwa sebagai pemegang bendera Al Mahdi dan macam-macam lagi. Sampai di sini perlu sekali kita kembali kepada hadith-hadith Nabi s.a.w. yang mengingatkan setiap orang begitu kepingin dengan pangkat-pangkat yang sangat istimewa itu walaupun tidak mempunyai kelayakan. 

Sabda Rasulullah S.A.W: 

من ادّعى ما ليس له فليس منّا 

“Sesiapa yang mendakwa sesuatu yang bukan haknya, bukanlah ia dari ummatku.” (Hadith Riwayat Muslim) 

Sabda Baginda S.A.W lagi: 

من ادّعى قوما ليس له فيهم نسب فليتبوّأ مقعده من النّار 

“Sesiapa yang mendakwa hubungan keturunan sesuatu kaum, sedangkan dia tidak mempunyai apa-apa hubungan dengan kaum itu, bermakna dia telah menyediakan tempatnya dalam neraka.” (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kitab Puasa


1. Keutamaan bulan Ramadan

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim No.1793)

2. Wajib berpuasa Ramadan jika melihat hilal awal Ramadan dan berhenti puasa jika melihat hilal awal Syawal. Jika tertutup awan, maka hitunglah 30 hari

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:

Dari Nabi saw. bahwa beliau menyebut-nyebut tentang bulan Ramadan sambil mengangkat kedua tangannya dan bersabda: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Ramadan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka hitunglah (30 hari). (Shahih Muslim No.1795)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari. (Shahih Muslim No.1808)

3. Larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum bulan Ramadan

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Janganlah engkau berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadan, kecuali bagi seorang yang biasa berpuasa, maka baginya silakan berpuasa. (Shahih Muslim No.1812)

4. Bulan yang berjumlah 29 hari

 Hadis riwayat Ummu Salamah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. pernah bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Dan setelah 29 hari berlalu, beliau datang menemui mereka. Kemudian beliau ditanya: Wahai Nabi! Baginda bersumpah tidak akan menemui kami selama satu bulan. Mendengar itu, beliau bersabda: Sesungguhnya bulan itu berjumlah 29 hari. (Shahih Muslim No.1816)

5. Arti pernyataan Nabi saw. bahwa dua bulan yang terdapat hari raya, jumlah harinya tidak berkurang

Hadis riwayat Abu Bakrah ra.:

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Dua bulan yang terdapat hari raya, harinya tidak berkurang; hari raya Ramadan dan bulan Zulhijah. (Shahih Muslim No.1822)

6. Waktu berpuasa dimulai sejak terbitnya fajar dan seseorang dibolehkan makan dan lainnya sampai terbit fajar, sifat fajar yang berkaitan dengan masuknya waktu berpuasa serta masuknya waktu salat subuh dan sebagainya

Hadis riwayat Adi bin Hatim ra.:

Ketika turun ayat: Sehingga nyata bagimu benang yang putih dari benang yang hitam, yaitu fajar, maka Adi bin Hatim berkata kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, sungguh saya meletakkan benang berwarna putih dan benang berwarna hitam di bawah bantalku, sehingga aku dapat mengenali antara waktu malam dan waktu siang hari. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya bantalmu itu sangat lebar. Sesungguhnya yang dimaksud adalah hitamnya (gelapnya) malam dan putihnya (terangnya) siang pada saat fajar. (Shahih Muslim No.1824)

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata:

Ketika turun ayat: Makan dan minumlah hingga nyata bagimu benang yang putih dari benang yang hitam. Beliau berkata: Seorang lelaki mengambil seutas benang yang berwarna putih dan seutas benang berwarna hitam. Lalu ia makan sampai kedua benang tersebut kelihatan jelas olehnya, sampai akhirnya Allah menurunkan ayat kelanjutannya Pada waktu fajar, sehingga persoalannya menjadi jelas. (Shahih Muslim No.1825)

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:

Dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda bahwa ketika Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai engkau mendengar azan yang dikumandangkan oleh Ibnu Ummu Maktum. (Shahih Muslim No.1827)

Hadis riwayat Ibnu Masud ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Janganlah sekali-kali azan Bilal itu mencegah salah seorang di antara kalian untuk makan sahur, karena Bilal mengumandangkan azan atau memanggil pada malam hari adalah untuk mengingatkan orang yang sedang salat qiyam (akan dekatnya waktu fajar) dan untuk membangunkan orang yang masih tidur. Selanjutnya beliau bersabda: Janganlah engkau hiraukan ucapan seseorang bahwa fajar itu begini begini sambil membenahi letak tangannya kemudian mengangkatnya ke atas, sesungguhnya fajar yang dimaksud ialah begini, sambil merenggangkan celah di antara kedua jarinya. (Shahih Muslim No.1830)

7. Keutamaan sahur, sunat mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan. (Shahih Muslim No.1835)

Hadis riwayat Zaid bin Tsabit ra., ia berkata:

Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah saw. Kemudian kami melaksanakan salat. Kemudian saya bertanya: Berapa lamakah waktu antara keduanya (antara makan sahur dengan salat)? Rasulullah saw. menjawab: Selama bacaan lima puluh ayat. (Shahih Muslim No.1837)

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Orang-orang itu senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. (Shahih Muslim No.1838)

8. Keterangan waktu berakhirnya puasa dan berlalunya waktu siang

Hadis riwayat Umar ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Ketika malam datang, siang pergi dan matahari pun terbenam, maka saat itulah orang yang berpuasa mulai berbuka. (Shahih Muslim No.1841)

Hadis riwayat Abdullah bin Abu Aufa ra., ia berkata:

Kami pernah bepergian bersama Rasulullah saw. di bulan Ramadan. Ketika matahari terbenam, beliau bersabda: Wahai fulan, singgahlah dan siapkanlah hidangan buat kami! Orang yang disuruh berkata: Wahai Rasulullah, bukankah sebaiknya baginda tangguhkan sebentar? Rasulullah saw. bersabda: Singgahlah dan siapkan hidangan buat kami! Kemudian ia singgah dan menyiapkan hidangan, lalu ia memberikannya kepada beliau. Nabi saw. meminumnya, kemudian bersabda sambil memberikan isyarat kedua tangannya: Jika matahari sudah terbenam di arah sana dan malam sudah datang dari arah sana, maka orang yang berpuasa boleh berbuka. (Shahih Muslim No.1842)

9. Larangan puasa wishal (sambung)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:

Bahwa Nabi saw. melarang puasa sambung (terus-menerus tanpa berbuka). Para sahabat bertanya: Bukankah baginda sendiri melakukan puasa wishal? Nabi saw. menjawab: Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Aku diberi makan dan minum. (Shahih Muslim No.1844)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. melarang puasa sambung. Kemudian salah seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah baginda sendiri melakukan puasa wishal? Beliau bersabda: Siapa di antara kalian yang seperti aku? Sesungguhnya di malam hari aku diberi makan dan minum oleh Tuhanku. Ketika mereka enggan menghentikan puasa sambung, beliau sengaja membiarkannya sehari sampai beberapa hari. Kemudian pada hari berikutnya, mereka melihat bulan (tanda masuk bulan Ramadan). Rasulullah saw. lantas bersabda: Kalau bulan itu tertunda datangnya, niscaya akan aku tambah lagi berpuasa sambung buat kalian sebagai pelajaran bagi mereka, karena mereka enggan berhenti puasa sambung. (Shahih Muslim No.1846)

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:

Rasulullah saw. pernah mengerjakan salat di bulan Ramadan. Kemudian aku datang ikut salat di samping beliau. Kemudian datang lagi orang lain dan ikut pula mengerjakan di sampingku dan seterusnya, sampai kira-kira sebanyak sepuluh orang. Ketika Rasulullah saw. merasa akan keberadaan kami di belakangnya, beliau meringankan salat kemudian pulang ke rumah untuk melanjutkan salat yang masih tersisa. Pagi harinya aku tanyakan hal itu kepada beliau: Apakah semalam engkau sengaja memberikan pelajaran kepada kami? Beliau menjawab: Betul, itulah alasan yang membuat aku melakukan seperti itu. Anas berkata: Kemudian Rasulullah saw. melakukan puasa sambung. Hal itu terjadi di akhir bulan Ramadan. Mengetahui hal itu maka ada beberapa orang sahabat yang ikut berpuasa sambung. Rasulullah saw. kemudian bersabda: Apakah mereka mau ikut berpuasa sambung bersamaku? Sesungguhnya kalian tidak seperti aku. Demi Allah, seandainya bulan ini dipanjangkan untukku, niscaya aku akan terus berpuasa biar hal itu menjadi pelajaran bagi mereka yang keras kepala. (Shahih Muslim No.1848)

10. Boleh ciuman dalam keadaan puasa dengan syarat tidak membangkitkan nafsu

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Adalah Rasulullah saw. mencium salah seorang istri beliau dan beliau sedang berpuasa lalu istrinya tersenyum. (Shahih Muslim No.1851)

Hadis riwayat Umar bin Abu Salamah ra.:

Bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw.: Bolehkah orang yang sedang berpuasa itu berciuman (dengan istrinya)? Rasulullah saw. menjawab: Tanyakan saja kepada Ummu Salamah. Kemudian ia (Ummu Salamah) memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. melakukannya. Umar bin Abu Salamah lalu berkata: Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosa baginda yang lalu dan yang akan datang? Rasulullah saw. bersabda padanya: Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah dari kalian. (Shahih Muslim No.1863)

11. Sah puasa orang yang masih junub pada waktu fajar

Hadis riwayat Aisyah ra. dan Ummu Salamah ra. berkata:

Rasulullah saw. pernah bangun pagi hari dalam keadaan junub bukan karena mimpi kemudian beliau terus berpuasa. (Shahih Muslim No.1864)

12. Diharamkan bersetubuh di siang hari bulan Ramadan bagi yang berpuasa dan wajib membayar kifarat yang sangat berat. Keterangan bahwa kifarat tersebut harus dilaksanakan bagi yang mampu atau tidak mampu dan bagi yang tidak mampu tanggungan kifarat tersebut ditunggu sampai mampu

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Seorang lelaki datang menemui Nabi saw. dan berkata: Celaka saya, wahai Rasulullah. Beliau bertanya: Apa yang membuat engkau celaka? Lelaki itu menjawab: Saya telah bersetubuh dengan istri saya di siang hari bulan Ramadan. Beliau bertanya: Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan seorang budak? Ia menjawab: Tidak punya. Beliau bertanya: Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut? Ia menjawab: Tidak mampu. Beliau bertanya lagi: Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Ia menjawab: Tidak punya. Kemudian ia duduk menunggu sebentar. Lalu Rasulullah saw. memberikan sekeranjang kurma kepadanya sambil bersabda: Sedekahkanlah ini. Lelaki tadi bertanya: Tentunya aku harus menyedekahkannya kepada orang yang paling miskin di antara kita, sedangkan di daerah ini, tidak ada keluarga yang paling memerlukannya selain dari kami. Maka Rasulullah saw. pun tertawa sampai kelihatan salah satu bagian giginya. Kemudian beliau bersabda: Pulanglah dan berikan makan keluargamu. (Shahih Muslim No.1870)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: Celaka aku. Rasulullah saw. bertanya: Kenapa? Lelaki tadi menjawab: Aku telah menggauli istriku pada siang hari bulan Ramadan. Rasulullah saw. bersabda: Bersedekahlah untuk itu, bersedekahlah. Tetapi laki-laki tadi berkata: Aku tidak memiliki apa-apa. Lalu beliau menyuruhnya duduk sejenak. Kemudian beliau memberikan kepadanya dua keranjang makanan dan menyuruhnya untuk menyedekahkannya. (Shahih Muslim No.1873)

13. Boleh berpuasa atau berbuka di siang hari bulan Ramadan bagi yang bepergian bukan untuk maksiat apabila jarak perjalanan minimal kira-kira 45 km, dan bagi orang yang mampu lebih baik berpuasa dan bagi yang keberatan boleh tidak puasa

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bepergian pada tahun penaklukan kota Mekah di bulan Ramadan. Beliau tetap berpuasa hingga tiba di daerah Kadid, beliau tidak berpuasa. Dan para sahabat Rasulullah saw. selalu mengikuti kejadian demi kejadian karena perintahnya. (Shahih Muslim No.1875)

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:

Adalah Rasulullah saw. pada suatu perjalanan melihat seorang laki-laki dikerumuni orang banyak sehingga ia hampir-hampir tidak dapat dikenali. Kemudian beliau bertanya: Ada apa dengannya? Para sahabat menjawab: Dia sedang berpuasa. Rasulullah saw. bersabda: Bukan termasuk kebaikan kalian berpuasa dalam perjalanan. (Shahih Muslim No.1879)

Hadis riwayat Anas Bin Malik ra.:

Anas ra. pernah ditanya tentang berpuasa pada bulan Ramadan dalam perjalanan? Dia menjawab: Kami pernah bepergian bersama Rasulullah saw. pada bulan Ramadan, yang berpuasa tidak mencela yang tidak puasa dan yang tidak puasa juga tidak mencela yang berpuasa. (Shahih Muslim No.1884)

14. Pahala orang yang tidak puasa dalam perjalanan jika ia menangani suatu pekerjaan

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:

Kami pernah bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Di antara kami ada yang tetap berpusa dan ada pula yang tidak puasa. Kami singgah di sebuah tempat saat hari sedang panas sekali. Di antara kami yang paling banyak mendapat naungan ialah orang-orang yang berpakaian lengkap, sementara orang-orang yang tidak berpakaian lengkap mereka melindungi kepalanya dari teriknya matahari dengan menutupkan tangannya ke atas. Maka orang-orang yang berpuasa berjatuhan (karena lemah) dan mereka yang tidak puasa masih dapat tegak berdiri. Mereka kemudian mendirikan tenda-tenda dan memberikan minum unta-unta. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Orang-orang yang berbuka hari ini pergi membawa pahala. (Shahih Muslim No.1886)

15. Memilih puasa atau tidak puasa dalam bepergian

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Hamzah bin Amru Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah saw. tentang puasa dalam perjalanan, maka beliau menjawab: Jika engkau mau, berpuasalah dan jika engkau tidak mau, maka boleh tidak puasa. (Shahih Muslim No.1889)

Hadis riwayat Abu Darda ra., ia berkata:

Kami pernah bepergian bersama Rasulullah saw. di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga sampai sebagian kami terpaksa harus menutupkan tangan pada kepalanya, karena teriknya matahari. Kami semua tidak ada yang berpuasa kecuali Rasulullah saw. dan Abdullah bin Rawahah. (Shahih Muslim No.1892)

16. Sunat berbuka bagi orang yang beribadah haji pada hari Arafah di Arafah

Hadis riwayat Ummul Fadhel binti Harits ra.:

Bahwa beberapa orang berdebat di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Rasulullah saw. Sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa pada hari itu beliau berpuasa, sebagian mengatakan bahwa pada hari itu beliau tidak berpuasa. Kemudian aku mengirimkan segelas susu kepada beliau yang wukuf dekat untanya di Arafah. Ternyata beliau meminumnya (beliau tidak puasa). (Shahih Muslim No.1894)

Hadis riwayat Ummul Fadhel ra., ia berkata:

Beberapa orang sahabat Rasulullah saw. merasa ragu akan hukum puasa hari Arafah, sedangkan kami di sana bersama Rasulullah saw. Maka aku mengirimkan secangkir susu kepada beliau, sewaktu beliau berada di Arafah lalu beliau meminumnya (tidak puasa). (Shahih Muslim No.1895)

17. Puasa pada hari Asyura'

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Adalah kaum Quraisy pada zaman Jahiliyah selalu berpuasa pada hari Asyura' dan Rasulullah saw. juga berpuasa pada hari itu. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabat untuk berpuasa pada hari itu. Namun ketika diwajibkan puasa bulan Ramadan, beliau bersabda: Barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa yang tidak ingin berpuasa, maka ia boleh meninggalkannya. (Shahih Muslim No.1897)

Hadis riwayat Abdullah Ibnu Umar ra.:

Bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu selalu berpuasa pada hari Asyura'. Dan bahwa Rasulullah saw. dan kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadan. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya hari Asyura' adalah hari-hari Allah, maka barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah pada hari itu dan barang siapa yang tidak ingin, maka ia boleh meninggalkannya. (Shahih Muslim No.1901)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:

Dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: Asy`ats bin Qais datang menjumpai Abdullah, ketika ia sedang makan siang, ia (Abdullah) berkata: Wahai Abu Muhammad, mari kita makan siang. Ia (Asy`ats) berkata: Bukankah hari ini adalah hari Asyura'? Ia (Abdullah) bertanya: Apakah engkau mengetahui apa hari Asyura' itu? Ia (Asy`ats) menjawab: Hari apa itu. Kemudian ia (Abdullah) menjelaskan: Hari itu adalah hari yang dahulu Rasulullah saw. selalu berpuasa sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadan dan ketika puasa bulan Ramadan diwajibkan, puasa hari Asyura' itu ditinggalkan. (Shahih Muslim No.1905)

Hadis riwayat Muawiyah bin Abu Sufyan ra.:

Dari Humaid bin Abdurrahman bahwa ia mendengar Muawiyah bin Abu Sufyan berpidato di Madinah pada hari Asyura' ketika ia berkunjung ke kota tersebut. Ia bertanya: Di manakah ulama-ulama kalian, wahai penduduk Madinah? Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda tentang hari ini. Hari ini adalah hari Asyura' dan Allah tidak mewajibkan kalian melaksanakan puasa pada hari ini, tetapi aku berpuasa. Maka barang siapa di antara kalian ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa di antara kalian ingin berbuka, maka silakan tidak puasa. (Shahih Muslim No.1909)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:

Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari Asyura'. Ketika ditanyakan tentang hal itu, mereka menjawab: Hari ini adalah hari kemenangan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Musa as. dan Bani Israel atas Firaun. Karena itulah pada hari ini kami berpuasa sebagai penghormatan padanya. Mendengar jawaban itu Rasulullah saw. bersabda: Kami lebih berhak atas Musa dari kalian, maka beliau menyuruh para sahabat untuk berpuasa. (Shahih Muslim No.1910)

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:

Has.ri Asyura' adalah hari yang dimuliakan orang-orang Yahudi dan dijadikannya sebagai hari raya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Berpuasalah kalian pada hari Asyura' tersebut. (Shahih Muslim No.1912)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:

Ibnu Abbas ra. pernah ditanya tentang puasa pada hari Asyura', dia menjawab: Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. berpuasa sehari untuk mencari keutamaan hari itu atas hari-hari yang lain selain pada hari ini. Begitu pula (saya tidak pernah melihat beliau) berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan ini, bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.1914)

18. Barang siapa makan pada siang hari Asyura', maka hendaknya ia berpuasa pada sisa harinya

Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra., ia berkata:

Rasulullah saw. pernah mengutus seorang laki-laki dari Aslam pada hari Asyura' untuk mengumumkan kepada manusia bahwa Barang siapa yang belum berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa dan barang siapa yang terlanjur makan, maka hendaknya ia menyempurnakan dengan berpuasa sampai menjelang malam. (Shahih Muslim No.1918)

Hadis riwayat Rubayyi` binti Muawwidz bin Afra' ra., ia berkata:

Rasulullah saw. mengirim surat ke kampung-kampung Ansar di sekitar Madinah yang isinya: Barang siapa yang pada pagi hari ini dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya itu. Barang siapa yang pada pagi hari ini tidak berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa pada sisa harinya. Setelah itu kami berpuasa, bahkan kami menyuruh anak-anak kami yang masih kecil untuk ikut berpuasa bersama kami atas izin Allah. Sehingga ketika kami berangkat ke mesjid, kami membuatkan untuk mereka (anak-anak kami) mainan dari bulu kambing kibasy. Jika di antara mereka ada yang menangis minta makan, maka kami (hiburnya) dengan memberikan mainan tersebut. Demikian yang kami lakukan sampai kami semua boleh berbuka. (Shahih Muslim No.1919)

19. Larangan berpuasa pada hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha

Hadis riwayat Umar bin Khathab ra., ia berkata:

Bahwa dua hari ini hari yang dilarang Rasulullah saw. untuk berpuasa, yaitu hari raya Idul Fitri setelah kalian berpuasa (Ramadan) dan hari raya makan (daging kurban) setelah kalian menunaikan ibadah haji. (Shahih Muslim No.1920)

Hadis riwayat Abu Said Khudhri ra., ia berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah patut berpuasa pada dua hari tertentu, yakni Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri setelah puasa Ramadan. (Shahih Muslim No.1922)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:

Seorang laki-laki datang kepada Ibnu Umar ra. dan berkata: Sungguh aku telah bernazar untuk berpuasa satu hari yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Idul Fitri. Ibnu Umar ra. berkata: Allah Taala memerintahkan untuk menepati janji, nazar dan Rasulullah saw. melarang puasa pada hari ini. (Shahih Muslim No.1924)

20. Makruh berpuasa pada hari Jumat saja

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:

Dari Muhammad bin Abbad, ia berkata: Aku bertanya kepada Jabir bin Abdullah ra. ketika sedang melakukan tawaf di Baitullah: Apakah Rasulullah saw. melarang puasa pada hari Jumat saja? Jabir menjawab: Ya, demi Tuhan Baitullah ini. (Shahih Muslim No.1928)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali ia berpuasa sehari sebelumnya atau (berniat puasa) hari sesudahnya. (Shahih Muslim No.1929)

21. Penghapusan firman Allah: Dan wajib bagi orang-orang yang berat melakukannya jika mereka tidak berpuasa membayar fidyah dengan firman-Nya Barang siapa di antara engkau hadir di negeri tempat tinggalnya di bulan itu, maka hendaknya ia berpuasa pada bulan itu

 Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra., ia berkata:

Ketika turun ayat berikut, Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya jika mereka tidak berpuasa membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin, maka orang yang ingin tidak puasa, cukup dengan membayar fidyah, hingga akhirnya turun ayat berikutnya yang menghapus hukum ayat sebelumnya. (Shahih Muslim No.1931)

22. Membayar puasa Ramadan di bulan Syakban

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Adalah aku mempunyai tanggungan puasa Ramadan, aku tidak dapat membayarnya kecuali pada bulan Syakban, karena kesibukan dari Rasulullah saw. atau kesibukan bersama Rasulullah saw.. (Shahih Muslim No.1933)

23. Membayarkan tanggungan puasa orang yang telah meninggal

Hadis riwayat Aisyah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa, maka walinya harus berpuasa untuk membayar tangungannya. (Shahih Muslim No.1935)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:

Bahwa seorang perempuan datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia mempunyai tanggungan puasa sebulan. Beliau bertanya: Apa pendapatmu jika ibumu mempunyai utang kepada orang lain, apakah engkau akan membayarnya? Ia menjawab: Ya (aku akan bayar). Beliau bersabda: Utang kepada Allah adalah lebih berhak untuk dibayar. (Shahih Muslim No.1936)

24. Menjaga lidah bagi yang berpuasa

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Apabila salah seorang dari kalian bengun dalam keadaan berpuasa, maka janganlah ia berbicara jorok dan kotor, maka jika seseorang dicaci atau diperangi, maka hendaklah ia berkata: Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa. (Shahih Muslim No.1941)

25. Keutamaan puasa

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat pintu yang bernama Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada orang selain mereka yang masuk bersama mereka. Ditanyakan: Di mana orang-orang yang puasa? Kemudian mereka masuk lewat pintu tersebut dan ketika orang yang terakhir dari mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup kembali dan tidak ada orang yang akan masuk lewat pintu itu. (Shahih Muslim No.1947)

26. Keutamaan berpuasa di jalan Allah bagi orang yang mampu, tanpa mudarat dan meninggalkan hak (bekerja)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah seorang hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh jarak perjalanan 70 tahun. (Shahih Muslim No.1948)

27. Makan, minum dan bersetubuhnya orang yang lupa itu tidak membatalkan puasa

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa lupa bahwa ia sedang berpuasa, sehingga ia makan atau minum, maka hendaklah ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah. (Shahih Muslim No.1952)

28. Puasanya Nabi saw. pada selain bulan Ramadan. dan sunat tidak mengosongkan satu bulan dari puasa

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:

Rasulullah saw. tidak pernah berpuasa satu bulan penuh, kecuali pada bulan Ramadan. Beliau berpuasa, jika beliau mau, sampai-sampai ada yang mengira bahwa beliau, demi Allah, tidak pernah tidak puasa. Jika beliau mau, beliau tidak puasa, sampai-sampai ada yang mengira bahwa beliau, demi Allah, beliau tidak pernah puasa. (Shahih Muslim No.1959)

Hadis riwayat Anas ra.:

Bahwa Rasulullah saw. pernah selalu berpuasa (sunat), sampai ada yang mengatakan bahwa beliau seakan-akan berpuasa terus-menerus. Dan pernah pula beliau selalu tidak berpuasa, sampai ada yang mengatakan bahwa beliau tidak pernah puasa (sunat). (Shahih Muslim No.1961)

29. Larangan berpuasa setahun penuh bagi yang akan memudaratkan atau menjadikan kewajibannya terbengkalai atau tidak berbuka pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha serta pada hari tasyrik dan penjelasan keutamaan berpuasa selang-seling

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:

Rasulullah saw. dikabarkan bahwa aku pernah berkata akan selalu salat qiyam, akan berpuasa pada siang harinya sepanjang hidupku. Kemudian Rasulullah saw. bertanya: Betulkah engkau pernah bilang demikian? Aku menjawab: Betul, aku pernah mengatakannya, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Sungguh engkau tidak akan mampu melakukan yang demikian. Oleh karena itu berpuasalah dan juga berbukalah. Tidurlah dan bangun malamlah. Berpuasalah tiga hari dalam setiap bulan. Sebab, satu kebajikan itu nilainya sama dengan sepuluh kebajikan. Dan yang demikian itu (puasa tiga hari dalam tiap bulan) nilainya sama dengan puasa satu tahun. Lalu aku katakan kepada Rasulullah saw: Tetapi aku mampu berbuat lebih dari itu. Beliau bersabda: Berpuasalah sehari dan tidak puasa dua hari. Aku katakan kepada beliau: Tetapi aku mampu berbuat lebih dari itu. Rasulullah saw. bersabda: Jika begitu, berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itu adalah puasa nabi Daud as. dan itulah puasa yang tengah-tengah. Kemudian aku berkata: Sungguh aku mampu berbuat lebih dari itu. Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada yang lebih utama dari itu. Abdullah bin Amru ra. berkata: Aku terima tiga hari sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw. adalah lebih aku sukai dari istri dan hartaku. (Shahih Muslim No.1962)

30. Hukum puasa pada hari-hari akhir bulan Syakban

Hadis riwayat Imran bin Hushain ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya atau kepada orang lain (dan ia mendengarnya): Apakah engkau berpuasa pada hari-hari akhir bulan Syakban? Aku menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Kalau begitu, maka berpuasalah dua hari. (Shahih Muslim No.1975)

31. Keutamaan lailatulkadar, anjuran untuk mencarinya, keterangan tentang waktunya dan waktu lebih diharapkan saat mencarinya

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:

Bahwa sekelompok orang dari sahabat Rasulullah saw. bermimpi melihat lailatulkadar pada hari ke tujuh yang terakhir. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Menurutku bahwa mimpi kalian pasti bertepatan dengan hari ke tujuh terakhir, maka barang siapa yang ingin menantinya, maka hendaklah ia menanti pada hari ke tujuh terakhir (bulan Ramadan). (Shahih Muslim No.1985)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:

Rasulullah saw. pernah melakukan iktikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan. Ketika mana waktu dua puluh malam telah berlalu dan akan menyambut malam yang kedua puluh satu, maka beliau kembali ke rumahnya dan sahabat yang beriktikaf bersama beliau juga kembali ke rumah mereka. Kemudian beliau bangun malam pada malam ia kembali dari iktikaf dan berpidato di hadapan sahabat serta menyuruh mereka untuk melaksanakan kehendak Allah lalu bersabda: Sungguh dahulu aku iktikaf pada sepuluh malam ini (sepuluh malam pertengahan) kemudian nampak olehku (melalui mimpi) untuk iktikaf pada sepuluh malam akhir. Barang siapa yang pernah iktikaf bersamaku, maka hendaklah ia tidur di tempat iktikafnya. Sesungguhnya aku telah melihat (lailatulkadar) pada malam-malam ini, tetapi lalu aku lupa (waktunya), maka cari dan nantikanlah malam itu di sepuluh malam akhir yang ganjil. Aku pernah bermimpi bahwa aku sujud di air dan lumpur. Abu Said Al-Khudri berkata: Pada malam kedua puluh satu, kami diturunkan hujan, sehingga air mengalir dari atap mesjid ke tem

pat salat Rasulullah saw., lalu aku memperhatikan beliau. Beliau sudah selesai dari salat Subuh dan pada wajah beliau basah dengan lumpur dan air. (Shahih Muslim No.1993)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Cari dan nantikanlah lailatulkadar pada sepuluh terakhir bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.1998)

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget